ARTIKEL MALAM
Hari/Tgl  : Sabtu, 25 Februari 2017

                   29 Jumadil Awal 1438 H

No            : 724/AM/KOM/II/2017

Materi.     : Akhlak

Pemateri : Ronal Yahya

Tujuan     : Kutuber & Umum

◆==¤==◆==¤◇◆◇¤==◆==¤==◆

🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠
🍃 *Asy-syaja’ah (keberanian)* Bagian 1
Asy-syaja’ah (keberanian) adalah salah satu ciri yang dimiliki orang yang istiqamah di jalan Allah swt. Orang yang istiqamah akan bersikap berani, tenang, dan optimis, karena yakin berada di jalan yang benar dan yakin pula akan dekatnya pertolongan Allah swt.
Namun memang tidak mudah untuk menjadi orang yang istiqamah atau teguh pendirian berpegang pada nilai kebenaran dan senantiasa berada di jalan Allah swt. Nabi saw, berkata bahwa turunnya surat Hud membuat beliau beruban karena didalamnya terdapat perintah untuk istiqomah, sebagaimana firman Allah swt yang artinya :
“Maka tetaplah engkau (Muhammad) (dijalan yang benar), sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh Dia Mahateliti apa yang kamu kerjakan”. (QS. Huud: 112)
Rasulullah saw, memahami benar makna istiqamah, sampai ketika Abu Sufyan bertanya hal terpenting apa dalam Islam yang membuatnya tak perlu bertanya lagi, beliau menjawab, “Berimanlah kepada Allah dan istiqamahlah (terhadap yang kau imani tersebut)”.
Rasulullah saw, juga mengatakan tantangan buat orang yang istiqamah memegang Islam di akhir zaman, begitu berat laksana menggenggam bara api.

Keberanian untuk tetap istiqamah walau nyawa taruhannya, nampak pada diri orang-orang beriman di dalam surat Al-Buruuj dimana orang yang beriman dimasukkan ke dalam parit dan dibakar oleh as-habul ukhdud hanya karena mereka menyatakan keimanannya kepada Allah swt.

ومانقموامنحم الاانيؤمنين والمؤمنت ثم لم يتوافلهم عذاب جهنم عذابالحريق(٨)
“Dan mereka menyiksa orang-orang mukmin itu hanya karena (orang-orang mukmin itu) beriman kepada Allah yang Maha perkasa dan Maha terpuji”. (QS. Buruuj: 8)
Begitu pula Asiah, istri Fir’aun dan Masyitah, pelayan Fir’aun, kedua-duanya harus menebus keimanan mereka kepada Allah swt dengan nyawa mereka. Asiah di tiang penyiksaannya dan Masyitah di kuali panas mendidih beserta seluruh keluarganya karena mereka berdua tak sudi menuhankan Fir’aun.
Demikian sulitnya untuk mempertahankan keistiqamahan di jalan Allah swt, dan demikian sulit untuk mewujudkan asy-syaja’ah sebagai salah satu aspeknya.
Secara manusiawi seseorang memang memiliki sifat khauf (takut) sebagai lawan sifat asy-syaja’ah. Namun sifat khauf thabi’i (alamiah) yang diadakan Allah swt di dalam diri manusia sebagai mekanisme pertahanan diri seperti takut terbakar, tenggelam, terjatuh dimangsa binatang buas, harus berada di bawah khauf syar’i yaitu takut kepada Allah swt. Hal tersebut secara indah dan heroik terlihat gamblang pada kisah Nabi Musa as, Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Muhammad saw.

Rasa takut pada kemungkinan tenggelam ke laut merah teratasi oleh ketenangan, optimisme dan keberanian Nabi Musa as, yang yakin Allah swt bersamanya dan akan menunjukinya jalan. Dan benar saja Allah swt memberinya jalan keluar berupa mukjizat, terbelahnya laut merah dengan pukulan tongkatnya sehingga bisa dilalui oleh Nabi Musa as, dan pengikutnya. Kemudian laut itu menyatu kembali dan tenggelamlah Fir’aun beserta tentaranya.
Kisah yang lain terlihat pada peristiwa pembakaran Nabi Ibrahim as, Rasa takut thabi’i terhadap api dan terbakar olehnya teratasi oleh rasa takut syar’i yaitu takut kepada Allah swt, saja. Dan Subhanallah, Allah swt, datangkan pertolongan dengan perintah-Nya kepada api agar menjadi dingin dan sejuk serta menyelamatkan Nabi Ibrahim as.

Keberanian, ketawakalan dan kepasrahan pada Allah swt, terlihat ketik Nabi saw, bersama sahabat Abu Bakar Ash-Shidiq ra, berada di gua Tsur untuk bersembunyi dalam rangka strategi hijrah ke Yatsrib (Madinah).

Kaki-kaki musuh yang lalu lalang di sekitar gua Tsur tidak membuat Nabi saw, getar dan ketika Abu Bakar ra, begitu khawatir akan keselamatan Nabi saw, beliau menenangkannya dengan berkata, “Jangan takut, sesungguhnya Allah swt,  bersama kita”.
… لاتحزن ان الله معنا،.. 
“…jangan kamu bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita…”. (QS. At-Taubah: 40)

Dan terbukti Allah swt, memberikan pertolongan melalui makhluk-makhluk-Nya yang lain. Burung merpati yang secara kilat membuat sarang, begitu pula laba-laba di mulut gua, membuat musyrikin Quraisy yang mengejar yakin gua itu tak mungkin dilalui oleh manusia.

Wallahu A’lam
🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠🌠

◆==¤==◆==¤◇◆◇¤==◆==¤==◆

👳🏻Konsultasi: 085245244285 (Erik Mardiansyah)

🌏Web : komunitastahajjudberantai.org

💻Fanspages: Komunitas  KUTUB 

🗳Telegram: tahajudberantai

🛄 Line : @tzy0902r

📧 Twitter: @tahajudberantai

📇Email: kutub.indonesia@gmail.com

📷Instagram : @komunitastahajjudberantai

↘Gabung kutub via Whatsapp Ketik 

#Nama Member #No. Group #Kormin#Daftarkan#Nama#No. WA# Domisili #L/P kirim ke SALAM KUTUB di 08119100165

———–**———–

═❁💰SEDEKAH KUTUB💰❁ ═

Bank Muamalat Norek : 3180005019 atas nama Komunitas Tahajjud Berantai atau

Ke Member Account KUTUB masing masing (bagi yang sudah mendapatkan identitas member kutub)
📱Konfirmasi : 0811-9100-165 (Salam Kutub) 
❁❁═❁❁═❁❁═❁❁═❁❁═❁❁═❁❁═❁❁
*Mengokohkan Langkah, Menggelorakan Istiqamah (OMGT)*

Iklan