Tulisan ini dimuat dengan judul Islam dan waktu.
Yesi Elsandra
*****

Tulisan ini saya awali dengan sebuah prolog berdialog dengan “Satu
Detik” yang diambil dari tulisan Jasiem M. Badr al-Muthawi (Risalah
Gusti:2001)

Pada suatu hari aku duduk dan menghadapkan hati ini kehadirat
Allah sambil menyesali rentangan usia yang telah kulalui. Kupanggil satu
detik dari waktu hidupku. Aku katakan padanya:

+ “Aku harap agar engkau mau kembali kepadaku, supaya aku dapat
menggunakanmu untuk berbuat kebajikan.”

_ “Sesungguhnya tidak ada waktu yang sudi berkompromi untuk berhenti.”

+ “Wahai detikaku memohon, kembalilah padaku agar aku dapat memanfaatkanmu
dan mengisi kekuranganku pada dirimu.”

_ “Bagaimana aku dapat kembali padamu, padahal aku telah tertutup oleh
perbuatanmu?”

+ “Coba lakukanlah hal yang mustahil itu dan kembalilah padaku! Betapa
banyak detik-detik selainmu yang juga kusia-siakan.”

_ “Seandainya kekuasaan ada di tanganku, pastilah aku kembali kepadamu,
namun tiada kehidupan bagiku. Dan itu terlipat oleh lembaran-lembaran
amalmu dan serahkan kepada Allah SWT.”

+ “Apakah mustahil, jika engkau kembali padaku, padahal saat ini engkau
sedang berbicara kepadaku?”

_ “Sesungguhnya detik-detik dalam kehidupan manusia, ada yang dapat
menjadi kawan setianya dan adakalanya ia menjadi musuh besarnya. Aku
adalah termasuk detik-detik yang menjadi musuhmu dan yang akan menjadi
saksi atasmu di hari kiamat kelak. Mungkinkah akan ketemu, dua orang yang
saling bermusuhan?”

+ “Duhai, alangkah menyesalnya aku. Betapa aku telah sering menyia-nyiakan
detik-detik dalam perjalanan hidupku! Tetapi sekali lagi kumohon sekiranya
engkau sudi kembali kepadaku, niscaya aku akan beramal saleh “di
dalammu” yang pernah kutinggalkan.”

Maka detik itupun terdiam, tidak mengeluarkan sepatah katapun. Akupun
lantas memanggilnya:

+ “Wahai detik, tidakkah engkau dengar panggilanku? Kumohon jawablah.”

_ “Wahai orang yang lalai akan dirinya, wahai orang yang menyia-nyiakan
waktu-waktunyaTahukah engkau, saat ini, demi mengembalikan satu detik
saja, sesungguhnya engkau telah menyia-nyiakan beberapa detik dari
umurmu. Mungkinkah engkau dapat mengembalikan mereka pula? Namun aku hanya
dapat berpesan kepadamu, “Sesungguhnya segala perbuatan yang baik itu
menghapuskan dosa segala perbuatan yang buruk”

Itulah sepenggal dialog manusia yang telah menyia-nyiakan
detik-detik dalam hidupnya. Satu detik saja dalam hidup ini tidak akan
pernah kembali menghampiri kita, apa lagi untuk bermain dan bersanda gurau
kembali dengannya. Ketika kita bertemu dengannya kita menjadikanya musuh,
tidak menghargainya, mencampakkannya, seolah-olah satu detik itu tidak
berarti dalam kita hidup. Akibatnya kita tidak akan pernah bisa
mengajaknya kembali menemani kita, walaupun satu derik saja. Bahkan
memikirikannya kembalipun hanya akan menghilangkan detik-detik waktu
berikutnya. Adakalanya waktu itu kelak menjadi musuh dan sahabat kita. Di
akhirat nanti dia bersaksi atas aktivitas kita di dunia.

Waktu Adalah Kekayaan Kita Yang Paling Berharga

Setelah iman, waktu adalah kekayaan kita yang paling berharga. Ia
lebih berharga dari intan permata, emas dan perak, sawah dan ladang. Lebih
sulit memelihara waktu dari pada harta. Jika harta kita hilang bisa kita
cari kembali, namun bila waktu kita hilang sedetik saja, berlalu sia-sia
sesaat saja, maka kita tidak akan pernah menemukan kembali waktu yang
sama. Karena hari ini tidak sama dengan hari kemaren.

Begitu pentingnya waktu, sebagaimana begitu berharganya setetes
iman dalam diri manusia, Allah beberapa kali bersumpah demi waktu dalam
Al-Quran. “Demi malam apabila menutupi cahaya siang dan siang apabila
terang benderang.” Demi fajar dan malam yang sepuluh” “Demi waktu matahari
sepenggal naik, dan demi malam apabila telah sunyi.” “Demi masa,
sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.”

Menurut ahli tafsir, jika Allah bersumpah dengan ciptaan-Nya, berarti
pandangan manusia harus tertuju padanya, karena pengaruhnya yang besar dan
abadi dalam kehidupan manusai (Yusuf Qardhawi)

Jika Allah telah bersumpah begitu, betapa besar nilai waktu dalam
kehidupan kita. Tapi kebanyakan manusia mengabaikan nilai yang sangat
berharga itu. Manusia masih sering bergulat dengan aktivitas yang tidak
berguna sedikitpun. Tidak sedikit hari-harinya dipenuhi dengan
angan-angan, melamun, menyendiri tanpa tujuan yang jelas. Kita biarkan
waktu berlalu begitu saja, membiarkan siang merambat malam, malam
menyelimuti siang. Begitu silih berganti, tanpa kita bisa berbuat sesuatu
manfaat sedikitpun dalam waktu itu. Akhirnya waktu itu hilang percuma
ditelan bumi. Padahal jika harta saja kita biarkan tanpa dijaga bisa
hilang apa lagi waktu yang tidak akan pernah bisa kembali jika dia hilang
dan berlalu.

Karakteristik Waktu

Waktu merupakan salah satu nikmat terbesar yang diberikan Allah kepada
kita. Yusuf Qardhawi memberikan beberapa ciri yang harus kita ketahui
tentang waktu.

1. Cepat berlalunya.
Bagaikan halilintar yang menyambar bumi, datang dan berlalu dengan
sekejab, begitulah waktu yang menghampiri kita. Bila kesusahan datang
mendera, bila maut telah datang menjemput, hidup ini akan terasa singkat.

Allah berfirman, “Dan (ingatlah) akan hari (yang waktu itu) Allah
mengumpulkan mereka, (mereka merasa hari itu) seakan-akan mereka tidak
pernah berdiam (di dunia) melainkan sesaat saja di siang hari, (di waktu
itu mereka saling berkenalan” (QS. Yunus:45)

Padahal Allah telah memberikan waktu yang cukup untuk kita jadikan sebagai
ladang amal, tempat berusaha, beribadah, mencari nafkah, tapi kita masih
sering mengabaikan wakyu yang cepat berlalu itu. Kita biarkan ia datang,
lalu pergi, dan suatu saat kitapun akhirnya menyesal.

2. Waktu yang talah berlalu tidak dapat kembali dan diganti
Tidak sama waktu kemaren dengan hari ini, begitu juga, tidak akan sama
waktu hari ini dengan esok serta lusa. Kita tidak akan bisa memanggil
kembali waktu walaupun hanya sedetik saja. Jika ia telah hilang, kitapun
tidak akan bisa mengantinya dengan benda lain

Hasan Bashri melukiskannya dengan ungkapan sebagai berikut, “Tidaklah
fajar hari ini terbit, kecuali ia akan memanggil, ‘Hai anak Adam, aku
adalah ciptaan yang baru dan aku akan menjadi saksi atas pekerjaanmu, maka
mintalah bekal kepadaku, karena aku tidak akan kembali lagi hingga hari
kiamat apabila aku telah berlalu” Akankah kita biarkan waktu berelalu
begitu saja, pergunakanlah kesempatan selama kita masih bisa
memanfaatkannya.

3. Waktu adalah yang termahal yang kita miliki
Kelak kita akan merasakan mahal dan sangat berartinya waktu tatkala kita
akan meninggal dunia atau saat kita menghadapi sakaratul maut. Pada saat
itu orang-orang yang mengabaikan waktunya berharap agar ditangguhkan
kematiaanya beberapa saat saja untuk memperbaiki kesalahan-kesalahannya
dan berbuat baik di dunia. Kemudian pada saat manusia dibangkitkan dari
dalam kubur dan dipaparkan apa saja yang telah diperbuatnya. Manusia yang
dimasukkan ke neraka berharap agar Allah memeprkenanakan mereka dimasukkan
ke dunia kembali, namun harapan itu sia-sia. Telah habis masanya kehidupan
dunia.

Karena waktu itu cepat berlalu, jika telah hilang tidak akan kembali dan
diganti, maka waktulah yang sesungguhnya amat berharga dari materi
dunia. Mumpung kita masih bersahabat dengan waktu, maka jaga, perhatikan
dan manfaatkan sebaik-baiknya untuk aktivitas yang berguna. Jangan biarkan
milik kita yang berharga ini kita sia-siakan dan hilang begitu saja.

Namun pada kenyataanya, walaupun Allah telah memberikan waktu yang
cukup, kita masih sering merasa kekurangan waktu untuk
beraktivitas. Sebenarnya bukan waktunya yang kurang, tetapi kitalah yang
tidak bisa memanfaatkan waktu itu dengan maksimal, sehingga waktu terbuang
sia-sia. Waktu yang seharusnya kita gunakan untuk kebaikan, malah banyak
kita gunakan untuk hal-hal yang tidak berguna

Ibnu Qayyim mengatakan, “Waktu pada hakekatnya adalah umur bagi
manusia. Ia adalah modal kehidupan yang abadi di dalam syurga kenikmatan,
juga sebagai modal kehidupan sengsara dalam azab yang pedih di
neraka. Waktu itu secapat perjalanan awan. Maka barangsiapa waktunya
semata untuk Allah dan senantiasa berada di jalan-Nya, maka waktu itu
menjadi nafas dan umurnya. Adapun yang digunakan selain itu, maka hal
tersebut di luar hitungan dalam hidupnya. Karena ia menjalani hidup ini
bagaikan kehidupan binatang. Dan apabila ia menghabiskan waktunya dalam
kelalaian dan angan-angan semu, maka kematian baginya lebih baik daripada
hidupnya.”

Begitu pentingnya waktu bagi kehidupan seorang muslim, maka Yusuf
Qardhawi mengatakan seorang muslim memiliki kewajiban untuk menjaga dan
memanfaatkan waktu. Menjaga agar jangan sampai waktu itu melukai kita,
karena ulama mengatakan, “waktu ibarat pedang, bila kamu tidak memakainya
dengan baik dan benar, maka ia akan memotong dirimu.” Seorang muslim
hendaknya mengisi detik-detik dalam hidupnya untuk kegiatan yang
bermanfaat, tidak panjang angan, bermimpi besar tanpa realisasi, karean
bila keadaanya seperti ini, Ibnu Qayyim mengatakan, kematian lebih baik
bagi orang -orang yang tidak bisa memanfaatkan waktunya ini.

Kelak di hari berbangkit, setiap jiwa akan dimintakan
pertanggungjawaban terhadap waktu yang telah diamanahkan Allah
kepadanya. “Kau gunakan untuk apa masa mudamu sebelum datang masa tuamu,
kau gunakan untuk apa masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, kau
gunakan untuk apa masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, kau gunakan
untuk apa masa lapangmu sebelum datang masa sempitmu?”

Pertanyaan itu harus kita jawab dan waktu menjadi saksinya. Bila
kita memanfaatkan dengan baik masa muda, masa luang, masa kaya, masa sehat
dengan aktivitas yang mendekatkan diri kita keapda Allah tentu waktu akan
memberi kesaksian dengan adil dan kita akan dimasukkan ke dalam golongan
ahli syurga. Tetapi bila kita tidak dapat mempertanggungjawabkan amanah
Allah itu dengan baik, maka kita akan digolongkan kepada ahli neraka. Pada
saat inilah kelak manusia minta waktu barang sesaat saja agar dikembalikan
ke dunia, namun permintaaan itu sia-sia, keinginan yang sudah terlambat
dan tidak akan berguna lagi.

Cara Mengefisienkan Waktu

Begitu singkatnya waktu, bak awan berarak yang belalu dengan
cepat, maka kita harus dapat memanfaatkannya secara efektif dan
efisien. Jasiem M.Badr al-Muthawi memberikan beberapa cara kepada kita
untuk mengefisienkan waktu:

1. Harakah (Pergerakan) Terarah
Hal ini ditekankan oleh Jasiem khususnya kepada aktivis dakwah. Seorang
da’i di zaman seperti ini harus memanfaatkan waktunya dengan cara
mengadakan pergerakan sampai ke pelosok terpencil. Karena rasulpun
melakukan perjalanan dakwah sampai ke lembah-lembah pemukiman kaum Arab
Badui.

2. Bergaul dengan masyarakat
Sebagai makhluk sosial, kita harus berinteraksi dengan masyarakat, juga
sebagai teman untuk saling tolong menolong. Agar efisien, pilihlah
masyarakat yang baik dan sholeh. Ali bin Abi Thalib mengatakan,
“Pergaulilah orang mukmin dengan hatimu, dan pergaulilah orang yang rusak
dengan perangaimu.”

3. Suka membantu orang lain
Jadikanlah diri kita bermanfaat untuk orang lain. Membantu orang yang
kesusahan dan meringankan bebannya.”Barang siapa yang melapangkan suatu
kesulitan di dunia bagi orang mukmin, maka Allah pasti melapangkan
baginya suatu kesulitan di hari kiamat.” (HR. Muslim)

4. Membaca
Membaca adalah salah satu pekerjaan yang bermanfaat. Dengan aktivitas
membaca kita akan mendapatkan banyak ilmu dan hikmah. “Sesungguhnya yang
takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah orang-orang yang
berilmu.” (QS. Al-Fathir:28)

5. Berdiskusi dan bertamasya
Kita dapat berdiskusi dengan orang lain untuk menambah pengetahuan,
menghilangkan masalah dan mencari penyelesainnya. Kita juga dapat mengisi
waktu kita dengan bertamasya atau rihlah untuk menghibur hati sambil
mentafakuri keindahan alam yang diciptakan Allah untuk seluruh
makhluk-Nya.

6. Berolah raga
Olah raga merupakan salah satu cara mengisi waktu dengan
efektif. Disamping dapat menyehatkan anggota tubuh, olah raga merupakan
ibadah, karena nabi mengatakan, “Sesungguhnya tubuh mempunya hak atas
kamu.” (HR. Muttafaq’alaih) Allah lebih mencintai muslim yang kuat dan
sehat dari pada muslim yang lemah.

Disampin keenam aktivitas yang disebutkan Jasiem tersebut, seorang muslim
harus dapat mengisi hari-harinya dengan kegiatan-kegiatan yang
baik. Mencari nafkah, mendidik anak, belajar, membatu orang lain yang
kesusahan merupakan aktivitas yang berguna. Disamping itu yang sangat
penting sekali adalah, isilah waktu kita senantiasa untuk menginggat
Allah, kapanpun, dimanapun, di waktu berdiri, duduk ataupun
berbaring. Senantiasa berzikir kepada Allah, sehingga jiwa kita tidak akan
pernah kosong. Manfaatkanlah waktu di dunia ini sebaik-baiknya, jangan
biarkan waktu berlalu begitu saja, karena dia tidak akan pernah kembali.
>>>http://groups.yahoo.com

Iklan