Sukses adalah hak setiap orang, dengan mengenal jalan untuk sukses berarti kita telah selangkah menuju sukses. Semoga bermanfaat

Pertama, kebiasaan bertanggung jawab ( proactive ). Tanggung jawab dalam bahasa Inggris responsible berasal dari dua kata yaitu response dan ability, yaitu kemampuan memilih respons terbaik terhadap stimulus yang bagaimana pun negatifnya. Orang sukses mengakui tanggung jawab tersebut. Mereka bertanggung jawab bahwa apapun yang dialami sekarang merupakan akibat dari pilihan sendiri di masa lalu. Mereka tidak menyalahkan kondisi atau pengkondisian atas perilaku mereka.

Kedua, kebiasaan berorientasi pada tujuan ( begin with the end in mind ). Kalau kebiasaan pertama mengajarkan bahwa kitalah yang menentukan. Maka kebiasaan kedua mengajarkan agar kita menentukan apa yang kita inginkan. Kita perlu menentukan tujuan dalam empat bidang. Pertama, tujuan pengembangan diri. Ingin berkembang menjadi diri yang seperti apa ? Ingin lebih sehat, penuh energi dan vitalitas ? Ingin meningkatkan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual ( ESQ ) ? Ingin menambah wawasan atau ketrampilan baru ? Ingin bergaul dengan kalangan tertentu ? Kedua, tujuan kepemilikan. Benda-benda berharga apa saja yang ingin dimiliki ? Ingin memiliki rumah idaman ? Ingin mengganti kendaraan dengan yang lebih baru dan nyaman ? Ketiga, tujuan keuangan. Ingin bebas hutang ? Ingin mencapai tabungan dalam jumlah tertentu ? Ingin menambah sumber penghasilan aktif dan pasif ? Keempat, tujuan kontribusi. Kalau kita meninggal dunia, semua akan terputus kecuali tiga hal, yaitu ilmu yang bermanfaat, amal jariyah, dan anak saleh yang terus mendoakan kita bukan saja semasa kita hidup tetapi juga setelah kita wafat. Dalam hal apa ingin berkontribusi ?
kebiasaan orang sukses

Ketiga, kebiasaan mendahulukan yang utama ( put first things first ). Kebiasaan ini hanya memilih untuk melakukan hal-hal yang benar-benar penting dan tidak menyia-nyiakan waktu untuk melakukan aktivitas tak penting, baik mendesak maupun tidak. Hal-hal yang benar-benar penting adalah aktivitas-aktivitas yang akan mendekatkan kita ke tujuan-tujuan yang telah kita tentukan pada kebiasaan kedua, mencakup tujuan pengembangan diri, tujuan kepemilikan, tujuan keuangan dan tujuan kontribusi.

Keempat, kebiasaan berpikir menang-menang ( think win/win ). Berpikir menang-menang membutuhkan kejujuran ( menyesuaikan kata dengan perbuatan ), integritas ( menyesuaikan perbuatan dengan perkataan ), kedewasaan ( seimbang antara ketegasan dan pertimbangan ), dan sikap mental berkelimpahan ( sebagai lawan dari sikap mental kelangkaan ).

Kelima, kebiasaan memahami terlebih dahulu, baru kemudian dipahami ( seek first to understand, then to be understood ). Manakah yang lebih tepat untuk diterapkan, apakah “take & give” atau “give & receive” ?

Keenam, kebiasaan bersinergi ( synergize ). Bekerjasama secara sinergistik memungkinkan kita menghasilkan karya bernilai beberapa kali lipat daripada penjumlahan karya sendiri-sendiri.

Ketujuh, kebiasaan melakukan perbaikan diri secara terus menerus ( sharpen the saw ). Hari ini lebih baik dari hari kemarin dan esok lebih baik dari hari ini. Untuk itu kita dapat menerapkan tiga strategi sukses berikut : bereksperimen, memodel orang yang sudah sukses, dan menggunakan sumber daya orang lain.

Kedelapan, kebiasaan menemukan panggilan jiwa dan mengilhami orang lain menemukan panggilan jiwa mereka ( find your voice and inspire others to find theirs ). Kebiasaan kedelapan ini memberikan “roh” kepada tujuh kebiasaan sebelumnya. Kata kunci kebiasaan kedelapan adalah voice. Voice adalah sesuatu yang unik yang dimiliki seseorang yang muncul ketika kita menghadapi tantangan sangat besar dan tantangan itulah yang menggerakkan kemampuan ( talent ) dan energi ( passion ) kita untuk mewujudkan suatu capaian yang luar biasa ( greatness ).

Voice adalah semacam potensi terpendam ( energi spiritual ) yang menggerakkan, memotivasi dan menginspirasi kita untuk mencapai greatness. Untuk mencapai greatness kita tidak cukup hanya memiliki IQ ( visi, kompetensi, pengetahuan, intelegensia ) dan EQ ( motivasi, empati, keuletan ) tetapi juga SQ ( suara hati yang ditiupkan oleh Allah pemilik Asmaul Husna dalam God Spot atau bagian lobus temporal otak kita ). Untuk mencapai greatness tidak cukup hanya memiliki talent ( IQ ) dan passion ( EQ ), tetapi juga conscience ( SQ )

share from (http://www.kurniawanfw.tk)

Iklan