Setiap hari kita tenggelam dlm keni’matan yg dilimpahkan oleh Ar-Rahman. Nikmat kesehatan keamanan ketenangan rizki berupa makanan minuman pakaian dan tempat tinggal. Belum lagi ni’mat iman bagi ahlul iman. Sungguh dlm tiap tarikan napas ada ni’mat yg tdk terhingga. Dari mulai tidur bangun dari tidur hingga tidur kembali ada ni’mat yg tiada terkira. mk Maha Benar Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika berulang-ulang menegaskan dlm surat Ar-Rahman:
فَبِأَيِّ آلاَءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
“Maka ni’mat Rabb kalian yg manakah yg kalian berdua dustakan?”
Nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yg berlimpah ini semesti dihadapi dgn penuh rasa syukur. Namun sangat disesali hanya sedikit dari para hamba yg mau bersyukur:
وَقَلِيْلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yg mau bersyukur.”

Kebanyakan dari mereka mengkufuri ni’mat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Atau malah mempergunakan ni’mat tersebut utk bermaksiat dan berbuat dosa kepada Ar-Rahman. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepada mereka banyak kebaikan namun mereka membalas dgn kejelekan.
Demikianlah keadaan anak manusia tiap hari selalu berbuat dosa. Kita pun tdk luput dari berbuat dosa baik krn tergelincir ataupun sengaja memperturutkan hawa nafsu dan bisikan setan yg selalu menggoda. Amat buruklah keadaan kita bila tdk segera bertaubat dari dosa-dosa yg ada dan menutupi dgn berbuat kebaikan. Karena perbuatan dosa itu memiliki pengaruh yg sangat jelek bagi hati dan tubuh seseorang di dunia ini maupun di akhirat kelak.
Al-Imam Al-’Allamah Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullahu menyebutkan secara panjang lebar dampak negatif dari dosa. Beberapa di antara bisa kita sebutkan di sini sebagai peringatan:
1. Terhalang dari ilmu yg haq. Karena ilmu merupakan cahaya yg dilemparkan ke dlm hati sementara maksiat akan memadamkan cahaya.
Tatkala Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu belajar kepada Al-Imam Malik rahimahullahu Al-Imam Malik terkagum-kagum dgn kecerdasan dan kesempurnaan pemahaman Asy-Syafi’i. Al-Imam Malik pun berpesan pada murid ini “Aku memandang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memasukkan cahaya ilmu di hatimu. mk janganlah engkau padamkan cahaya tersebut dgn kegelapan maksiat.”
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu pernah bersajak:
شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِي
فَأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي
وَقَالَ اعْلَمْ بِأَنَّ الْعِلْمَ فَضْلٌ
وَ فَضْلُ اللهِ لاَ يُؤْتاَهُ عَاصِ
“Aku mengeluhkan jelek hafalanku kepada Waki’
Maka ia memberi bimbingan kepadaku agar meninggalkan maksiat
Ia berkata “Ketahuilah ilmu itu merupakan keutamaan
dan keutamaan Allah Subhanahu wa Ta’ala tdk diberikan kepada orang yg berbuat maksiat.” 1
2. Terhalang dari beroleh rizki dan urusan dipersulit.
Takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mendatangkan rizki dan memudahkan urusan seorang hamba sebagaimana firman-Nya:
وَ مَنْ يَّتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ
“Siapa yg bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagi orang tersebut jalan keluar dan memberi rizki dari arah yg tiada disangka-sangkanya.”
وَمَنْ يَّتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا
“Siapa yg bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan bagi kemudahan dlm urusannya.”
Meninggalkan takwa berarti akan mendatangkan kefakiran dan membuat si hamba terbelit urusannya.
3. Hati terasa jauh dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan merasa asing dengan-Nya sebagaimana jauh pelaku maksiat dari orang2 baik dan dekat dia dgn setan.
4. Menggelapkan hati si hamba sebagaimana gelap malam. Karena ketaatan adl cahaya sedangkan maksiat adl kegelapan. Bila kegelapan itu bertambah di dlm hati akan bertambah pula kebingungan si hamba. Hingga ia jatuh ke dlm bid’ah kesesatan dan perkara yg membinasakan tanpa ia sadari. Sebagaimana orang buta yg keluar sendirian di malam yg gelap dgn berjalan kaki.
Bila kegelapan itu semakin pekat akan tampaklah tanda di mata si hamba. Terus demikian hingga tampak di wajah yg menghitam yg terlihat oleh semua orang.
5. Maksiat akan melemahkan hati dan tubuh krn kekuatan seorang mukmin itu bersumber dari hatinya. Semakin kuat hati semakin kuat tubuhnya. Adapun orang fajir/pendosa sekalipun badan tampak kuat namun sebenar ia selemah-lemah manusia.
6. Maksiat akan ‘memperpendek‘ umur dan menghilangkan keberkahan sementara perbuatan baik akan menambah umur dan keberkahannya. Mengapa demikian? Karena kehidupan yg hakiki dari seorang hamba diperoleh bila hati hidup. Sementara orang yg hati mati walaupun masih berjalan di muka bumi hakikat ia telah mati. Oleh karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan orang kafir adl mayat dlm keadaan mereka masih berkeliaran di muka bumi:
أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ
“Mereka itu adl orang2 mati yg tdk hidup.”
Dengan demikian kehidupan yg hakiki adl kehidupan hati. Sedangkan umur manusia adl hitungan kehidupannya. Berarti umur tdk lain adl waktu-waktu kehidupan yg dijalani krn Allah Subhanahu wa Ta’ala menghadap kepada-Nya mencintai-Nya mengingat-Nya dan mencari keridhaan-Nya. Di luar itu tidaklah terhitung sebagai umurnya.
Bila seorang hamba berpaling dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyibukkan diri dgn maksiat berarti hilanglah hari-hari kehidupan yg hakiki. Di mana suatu hari nanti akan jadi penyesalan baginya:
يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي
“Aduhai kira dahulu aku mengerjakan amal shalih utk hidupku ini.”
7. Satu maksiat akan mengundang maksiat lain sehingga terasa berat bagi si hamba utk meninggalkan kemaksiatan. Sebagaimana ucapan sebagian salaf: “Termasuk hukuman perbuatan jelek adl pelaku akan jatuh ke dlm kejelekan yg lain. Dan termasuk balasan kebaikan adl kebaikan yg lain. Seorang hamba bila berbuat satu kebaikan mk kebaikan yg lain akan berkata ‘Lakukan pula aku.’ Bila si hamba melakukan kebaikan yg kedua tersebut mk kebaikan ketiga akan berucap yg sama. Demikian seterusnya. Hingga menjadi berlipatgandalah keuntungan kian bertambahlah kebaikannya. Demikian pula kejelekan.”
8. Maksiat akan melemahkan hati dan secara perlahan akan melemahkan keinginan seorang hamba utk bertaubat dari maksiat hingga pada akhir keinginan taubat tersebut hilang sama sekali.
9. Orang yg sering berbuat dosa dan maksiat hati tdk lagi merasakan jelek perbuatan dosa. Malah berbuat dosa telah menjadi kebiasaan. Dia tdk lagi peduli dgn pandangan manusia dan acuh dgn ucapan mereka. Bahkan ia bangga dgn maksiat yg dilakukannya.
Bila sudah seperti ini model seorang hamba ia tdk akan dimaafkan sebagaimana berita dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِيْنَ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَََّيْلِ عَمَلاً ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ عَلَيْهِ فيَقُوْلُ: يَا فُلاَنُ، عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا. وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ
“Setiap umatku akan dimaafkan kesalahan/dosa kecuali orang2 yg berbuat dosa dgn terang-terangan. Dan termasuk berbuat dosa dgn terang-terangan adl seseorang melakukan suatu dosa di waktu malam dan Allah menutup perbuatan jelek yg dilakukan tersebut2 namun di pagi hari ia berkata pada orang lain “Wahai Fulan tadi malam aku telah melakukan perbuatan ini dan itu.” Padahal ia telah bermalam dlm keadaan Rabb menutupi kejelekan yg diperbuatnya. Namun ia berpagi hari menyingkap sendiri tutupan Allah yg menutupi dirinya.”
10. Setiap maksiat yg dilakukan di muka bumi ini merupakan warisan dari umat terdahulu yg telah dibinasakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Perbuatan homoseksual adl warisan kaum Luth.
Mengambil hak sendiri lbh dari yg semesti dan memberi hak orang lain dgn mengurangi adl warisan kaum Syu’aib.
Berlaku sombong di muka bumi dan membuat kerusakan adl warisan dari kaum Fir’aun.
Sombong dan tinggi hati adl warisan kaum Hud.
11. Maksiat merupakan sebab dihinakan seorang hamba oleh Rabbnya.
Bila Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menghinakan seorang hamba mk tdk ada seorang pun yg akan memuliakannya.
وَمَنْ يُهِنِ اللهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ
“Siapa yg dihinakan Allah niscaya tdk ada seorang pun yg akan memuliakannya.”
Walaupun mungkin secara zhahir manusia menghormati krn kebutuhan mereka terhadap atau mereka takut dari kejelekan namun di hati manusia ia dianggap sebagai sesuatu yg paling rendah dan hina.
12. Bila seorang hamba terus menerus berbuat dosa pada akhir ia akan meremehkan dosa tersebut dan menganggap kecil. Ini merupakan tanda kebinasaan seorang hamba. Karena bila suatu dosa dianggap kecil mk akan semakin besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dlm Shahih- menyebutkan ucapan sahabat yg mulia Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوْبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا
“Seorang mukmin memandang dosa-dosa seakan-akan ia duduk di bawah sebuah gunung yg ditakutkan akan jatuh menimpanya. Sementara seorang fajir/pendosa memandang dosa-dosa seperti seekor lalat yg lewat di atas hidung ia cukup mengibaskan tangan utk mengusir lalat tersebut.”
13. Maksiat akan merusak akal. Karena akal memiliki cahaya sementara maksiat pasti akan memadamkan cahaya akal. Bila cahaya telah padam akal menjadi lemah dan kurang.
Sebagian salaf berkata: “Tidaklah seseorang bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga hilang akalnya.”
Hal ini jelas sekali krn orang yg hadir akal tentu akan menghalangi diri dari berbuat maksiat. Ia sadar sedang berada dlm pengawasan-Nya di bawah kekuasaan-Nya ia berada di bumi Allah Subhanahu wa Ta’ala di bawah langit-Nya dan para malaikat Allah Subhanahu wa Ta’ala menyaksikan perbuatannya.
14. Bila dosa telah menumpuk hatipun akan tertutup dan mati hingga ia termasuk orang2 yg lalai. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوْبِهِمْ مَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
“Sekali-kali tdk sebenar apa yg selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.”
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullahu berkata menafsirkan ayat di atas: “Itu adl dosa di atas dosa hingga mati hatinya.”3
15. Bila si pelaku dosa enggan utk bertaubat dari dosa ia akan terhalang dari mendapatkan doa para malaikat. Karena malaikat hanya mendoakan orang2 yg beriman yg suka bertaubat yg selalu mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
الَّذِيْنَ يَحْمِلُوْنَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُوْنَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُوْنَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُوْنَ لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِيْنَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيْلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيْمِ. رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدْتَهُمْ وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ. وَقِهِمُ السَّيِّئَاتِ وَمَنْ تَقِ السَّيِّئَاتِ يَوْمَئِذٍ فَقَدْ رَحِمْتَهُ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ
“Malaikat-malaikat yg memikul Arsy dan malaikat yg berada di sekeliling bertasbih memuji Rabb mereka dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang2 yg beriman seraya berucap ‘Wahai Rabb kami rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu mk berilah ampunan kepada orang2 yg bertaubat dan mengikuti jalan-Mu dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yg menyala-nyala. Wahai Rabb kami masukkanlah mereka ke dlm surga Adn yg telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang2 yg shalih di antara bapak-bapak mereka istri-istri mereka dan keturunan mereka semuanya. Sesungguh Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha memiliki hikmah. Dan peliharalah mereka dari kejahatan. orang2 yg Engkau pelihara dari pembalasan kejahatan pada hari itu mk sungguh telah Engkau anugerahkan rahmat kepada dan itulah kemenangan yg besar’.”
Demikian beberapa pengaruh negatif dari perbuatan dosa dan maksiat yg kami ringkaskan dari kitab Ad-Da`u wad Dawa` karya Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullahu hal. 85-99. Semoga dapat menjadi peringatan.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

penulis Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah

1 Lihat Diwan Asy-Syafi’i Al-Fawa`id Al-Bahiyyah dan Syarh Tsulatsiyyat Al-Musnad .
2 Yakni tdk ada seorang pun yg mengetahuinya.
3 Jami’ul Bayan fi Ta`wilil Qur`an 12/190.

Sumber: http://www.asysyariah.com

Iklan