Peri bahasa mengatakan, “Induk burung tidak akan bisa memberi makan anaknya kalau ia tidak terbang dari sarangnya“, “Busur panah tidak akan pernah mengenai sasarannya jika tidak dilepaskan dari busumya“. Maksudnya adalah bahwa kita harus keluar dari rumah, berusaha, berpikir, dan mengerahkan segala kemampuan untuk mendapatkan rezeki Allah SWT. Karena Allah tidak akan memberikan rezeki kepada orang-orang yang berpangku tangan.

Allah SWT berfirman, “Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan sudah dijamin oleh Allah rezkinya …“. (QS. Hud [11]: 6). Namun jaminan Allah itu tentu bersyarat. Syaratnya adalah berusaha (berikhtiar).

Islam dengan syari’atnya yang sempurna telah memberikan arahan yang jelas, bahwa Islam adalah agama dan amal. Amal adalah standar kemuliaan diri seseorang. Tidak beramal berarti tidak ada nilai, sebaliknya, semakin banyak amal maka semakin besar peluang mendapatkan kemuliaan disisi Allah.

Fakta di lapangan membuktikan bahwa banyak orang yang terhina bahkan dihina, tercela dan dicela, tidak bermartabat, tidak punya harga diri, bahkan sejumlah gelar negatif dialamatkan kepada mereka karena tidak mau berusaha. Allah dan Rasul-Nya mencela orang yang menggantungkan hidupnya kepada orang lain, meminta-minta sementara ia mampu berusaha dan berikhtiar.

Rasulullah Saw bersabda, “Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah“. Di hadits lain disebutkan, “Makanan yang paling baik dimakan oleh seseorang adalah hasil dari jerih payahnya sendiri, karena sesungguhnya Nabi Daud as makan dari hasil jerih payahnya sendiri“.

Bekerja keras, itulah yang harus dilakukan oleh seorang muslim. Sebab Rasulullah Saw adalah manusia pekerja keras. Rasulullah Saw adalah manusia yang mandiri dan tidak mau menggantungkan hidupnya kepada orang lain meski kepada keluarganya sendiri. Hal ini dibuktikannya katika masih kecil telah menjadi pengembala. Disaat anak-anak seumurnya sibuk bermain, Muhammad sibuk dengan pekerjaan-pekerjaan yang bermanfaat.

Sebagai anak kecil ia tidak melupakan bermain karena itu sudah fitrahnya, tetapi bermain jauh lebih sedikit bila dibandingkan denganbekerja. Kemudian setelah menjadi remaja ia belajar berdagang dan ikut mengendalikan perdagangan bersama dengan pamannya. Dan dari pengalaman-pengalaman yang dilalui menghantarkannya menjadi saudagar sukses sebagaimana yang dikisahkan dalam sirah nabawiyah.

Kemudian di dalam rukun Islam terdapat beberapa motivasi kerja yang bernilai ibadah dan mendorong kita agar menjadi pekerja keras. Seperti yang terdapat dalam perintah zakat dan haji. Seseorang tidak akan mungkin membayarkan zakat kalau tidak memiliki harta, dan tidak mungkin harta yang dimiliki dapat mencapai jumlah nisab kalau tidak bekerjakeras. Demikian pula halnya dengan ibadah haji.

Oleh karena itu bekerja adalah merupakan suatu nilai yang terkait dengan azas manfaat. Rasulullah Saw bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain“. Hadits ini juga juga menawarkan kepedulian terhadap nasib orang-orang yang belum beruntung agar berbagi, berempati dan merasakan penderitaan para fakir dan miskin.

Permasalahannya adalah sejauh mana kita mendambakan nilai kemuliaan dari tawaran Rasul itu? Disamping adanya tawaran kemampuan, kemauan juga turut berperan untuk mewujudkan ajaran Rasulullah itu. Logikanya untuk bisa membantu orang lain kita harus punya kekuatan untuk memberikan sesuatu kepada orang lain. Mustahil memberi manfaat kepada orang lain sementara si pemberi sendiri tidak mampu memberi manfaat kepada dirinya.

Allah S WT berfirman, “Tidaklah sama antara mu’min yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar” (QS.An-Nisa’[4]:95).

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagian-mu dari (keni’matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, danjanganlahkamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (QS. al-Qashash[28]:77).

Bila kita melihat negara Barat yang jauh dari nilai-nilai ilahiyah, dan norma-norma agama mampu hidup melesat jauh ke depan, khususnya dalam semangat kerja. Motto “tiada hari tanpa bekerja“, pada prinsipnya adalah milik Islam, tetapi yang membuktikan motto itu adalah para musuh lslam

Iklan