Khalifah Umar bin Khattab nampak gelisah. Hampir satu pekan terakhir ini ia sering keluar ke perbatasan kota Madinah. Sepanjang hari ia berdiri sambil sesekali mendesah panjang. Nampak dari kecemasannya ia tengah menunggu sesuatu. Benar. Khalifah kedua pengganti Rasulullah ini sedang menanti berita tentang kaum muslimin di medan laga, Qadisiyah. Jika hari menjelang sore dan yang ditunggunya pun tak kunjung muncul, Khalifah Umar kembali ke rumahnya dengan hati cemas. Malamnya pun nyaris tak bisa memejamkan mata. Ia khawatir kekalahan akan menimpa kaum muslimin.

Suatu hari, kala sang khalifah tengah berada di perbatasan kota Madinah, menunggu seperti biasa, dari kejauhan nampak seorang penunggang kuda menuju ke arahnya. Dengan hati cemas diselimuti berbagai pertanyaan, khalifah berjuluk Al-Faruq itu menghampiri si penunggang kuda. Berbagai pertanyaan segera meluncur dari mulutnya.

“Anda dari mana?”

“Dari Qadisiyah,” jawab sang utusan.

“Apakah Anda salah seorang pasukan muslimin?” tanya Umar.

“Benar. Saya diutus oleh Panglima Besar Sa’ad bin Abi Waqqash untuk menyampaikan berita tentang keadaan kaum muslimin.”

“Hm… Bagaimana keadaan mereka?”

“Alhamdulilah. Berkat kebesaran Allah, kaum muslimin berhasil memenangkan pertempuran.”

Khalifah Umar menarik nafas lega. Kekhawatiran yang selama ini selalu membuatnya gelisah, sirna. Satu lagi kemenangan diraih kaum muslimin. Itu berarti dakwah islamiyah kembali tersebar menyinari seantero bumi. Sembari berjalan menuju kota Madinah, Umar bin Khattab terus menanyakan keadaan kaum muslimin dan rencana-rencana mereka selanjutnya. Sang utusan tetap berada di atas punggung kuda, sedangkan Umar bin Khattab berjalan kaki di sampingnya.

Utusan itu bernama Basyir Al-Badawi. Ia adalah salah seorang anggota kabilah Arab yang belum pernah bertemu dengan khalifah Umar bin Khattab. Karena kecepatannya menunggang kuda, ia dipilih untuk menyampaikan berita kemenangan kepada khalifah Umar bin Khattab.

Ketika memasuki pusat kota Madinah, kaum muslimin yang berpapasan dengan mereka memberikan salam kepada Umar bin Khattab. Betapa terkejutnya sang utusan saat mengetahui orang yang berjalan di sampingnya adalah khalifah kaum muslimin yang tengah ia cari. Buru-buru ia turun dari kuda tunggangannya.

“Apakah benar Anda Amirul Mukminin Umar bin Khattab? tanya sang utusan ragu.

“Khalifah Umar hanya tersenyum.

“Mengapa Anda tidak memperkenalkan diri sejak tadi. Saya sangat malu membiarkan Anda berjalan kaki sedangkan saya menunggang kuda…”

“Tidak apa-apa,” ujar khalifah Umar seraya memeluk sang utusan sebagai tanda kegembiraannya mendengar berita kemenangan kaum muslimin. Begitu juga penduduk Madinah. Mereka berseru gembira sambil mengucapkan takbir, memuji kebesaran Allah. Sedangkan sang utusan berkali-kali menyeka air mata haru begitu mengetahui ketawadhuan khalifahnya.

Iklan