Latest Entries »

FPI adalah Ahlusunnah wal Jamaah (ASWAJA).

Bismillaah wal Hamdulillaah …
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah …
Anggaran Dasar FPI Bab II pasal 5 tentang Asas, Aqidah dan Madzhab menyatakan :

1. Organisasi FPI berasaskan Islam.

2. Organisasi FPI beraqidahkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

3. Organisasi FPI bermadzhab Aqidah Asy’ari dan bermadzhab Fiqih Syafi’i”.

Karenanya, setiap pengurus FPI wajib memastikan bahwa ajaran Aswaja terlembagakan dalam tubuh FPI.

Dan setiap Aktivis FPI wajib menjadikan FPI sebagai RUMAH BERSIH ASWAJA, yaitu bersih dari Liberal mau pun Syiah dan Wahabi atau pun firqoh-firqoh Non Aswaja lainnya.

101 PRINSIP KEASWAJAAN FPI

FPI sebagai BENTENG SUNNI ASY’ARI SYAFI’I telah meletakkan prinsip-prinsip keaswajaan yang sangat mendasar, antara lain :

1. Meyakini Rukun Agama yang tiga yaitu : Iman, Islam dan Ihsan.

2. Meyakini Rukun Iman yang enam dan Rukun Islam yang lima serta Rukun Ihsan yang satu.

3. Meyakini bahwa Agama Islam adalah Aqidah, Syariat dan Akhlaq.

4. Meyakini bahwa Taat kepada Allah SWT bersifat Mutlak, sehingga apa saja yang ditetapkan Allah SWT wajib dipatuhi tanpa sedikit pun keraguan.

5. Meyakini bahwa Taat kepada Rasulullah SAW juga bersifat Mutlak, sehingga apa saja yang ditetapkan Rasulullah SAW wajib dipatuhi tanpa sedikit pun keraguan.

6. Meyakin bahwa Taat kepada Ulama dan Umara bersifat Muqoyyad yaitu terikat kepada Taat kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.

7. Meyakini kewajiban Taat kepada Ulama dan Umara selama mengajak Taat kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.

8. Meyakini keharaman Taat kepada Ulama dan Umara jika mengajak Ma’siat kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.

9. Menolak TRILOGI Tauhid yang MEMILAH Uluhiyyah, ‘Ubudiyyah dan Asmaa was Shifaat, karena Tauhid itu satu tidak berbilang dan satu kesatuan yang tidak terpisahkan, sehingga tidak bisa Kaum KAFIR dan MUSYRIK disebut AHLI TAUHID Rububiyah tanpa ‘Ubudiyah, apalagi jika pemilahan tersebut ditujukan untuk mengkafirkan sesama muslim.

10. Menolak segala bentuk Tajsim yaitu menjasmanikan Allah SWT dalam bentuk.

11. Menolak segala bentuk Tasybih yaitu menyerupakan Allah SWT dengan makhluq,

12. Menerima Tafwidh Sifat Allah SWT yaitu menyerahkan Makna dan Hakikat Sifat Allah SWT kepada Allah SWT.

13. Menerima Ta’wil Sifat Allah SWT yaitu menafsirkannya dengan makna Majazi manakala makna Haqiqi mustahil.

14. Menerima Tafwidh dan Ta’wil Sifat Allah SWT dengan tujuan Tanzih yaitu mensucikan Allah SWT dari Tajsim dan Tasybih.

15. Menolak Itsbat Sifat Allah SWT dengan makna Zhohir, apalagi makna Haqiqi, karena keduanya mengantarkan kepada Tajsim dan Tasybih.

16. Menjadikan Al-Qur’an, As-Sunnah, Al-Ijma’ dan Al-Qiyas sebagai Sumber Hukum.

17. Meyakini bahwa redaksi dan makna Al-Qur’an datang dari Allah SWT.

18. Meyakini bahwa redaksi dan makna Hadits Nabawi datang dari Rasulullah SAW.

19. Meyakini bahwa makna Hadits Qudsi datang dari Allah SWT, sedang redaksinya datang dari Rasulullah SAW.

20. Meyakini bahwa Al-Qur’an adalah Kalamullah bukan makhluq.

21. Meyakini bahwa tulisan huruf Al-Qur’an dalam Mushhaf dan suara Qori yang membaca Al-Qur’an adalah makhluq.

22. Meyakini bahwa proses pewahyuan Al-Qur’an kepada Rasulullah SAW melalui malaikat Jibril AS.

23. Meyakini bahwa penyampaian dan periwayatan Al-Qur’an dari generasi ke generasi secara Mutawatir, sehingga tidak ada keraguan tentang otentisitas Al-Qur’an sebagai Wahyu Allah SWT.

24. Meyakini bahwa Al-Qur’an adalah Kalamullah yang terjamin keasliannya, sehingga tidak ada satu pun kekuataan makhluq yang mampu mengurangi dan menambahkan atau pun merubah dan memalsukannya.

25. Meyakini bahwa Al-Qur’an adalah Kitab Suci terakhir yang diturunkan Allah SWT, sehingga setelah Al-Qur’an tidak ada lagi Kitab Suci yang diturunkan Allah SWT.

26. Meyakini bahwa Ayat Suci di atas Ayat Konstitusi, sehingga penerapan Ayat Suci adalah Harga Mati yang tidak bisa ditawar, karena tunduk dan patuh kepada Ayat Suci bersifat mutlak.

27. Meyakini bahwa Al-Qur’an hanya boleh dibaca dengan Qiraat yang Mutawatiroh dan dengan Langgam yang Mu’tabaroh.

28. Mengimani Rasulullah Muhammad SAW sebagai Rasul Terakhir dan Penutup Para Nabi, sehingga setelah Nabi Muhammad SAW tidak ada lagi Rasul atau pun Nabi baru yang diutus Allah SWT.

29. Mengimani Rasulullah Muhammad SAW sebagai Manusia Terbaik dan Suri Tauladan yang sempurna dalam setiap sektor kehidupan.

30. Meyakini bahwa Rasulullah SAW adalah Ma’shum sehingga terpelihara dari Dosa Besar mau pun Dosa Kecil.

31. Meyakini bahwa Rasulullah SAW pasti dapat rahmat Allah SWT dan pasti masuk Surga-Nya serta pasti melihat-Nya.

32. Meyakini bahwa semua hadits Nabi SAW, baik Mutawatir mau pun Ahad, selama shahih atau pun hasan, wajib dijadikan Dalil Syar’i dalam Aqidah, Syariat dan Akhlaq.

33. Meyakini adanya Pertanyaan Munkar dan Nakir, Siksa dan Nikmat Kubur, Kebangkitan dan Padang Mahsyar, Mizan dan Shirath, Surga dan Neraka, serta Bertemu dan Melihat Allah SWT, adalah bagian dari Aqidah Islam

34. Meyakini adanya Mu’jizat Nabi dan Karomah Wali serta Ilmu Laduni sebagai anugerah dan karunia Allah SWT.

35. Meyakini bahwa Nabi SAW diisra’-mi’rajkan oleh Allah SWT dengan Ruh dan Jasad.

36. Meyakini bahwa Nabi SAW di malam Isra’ Mi’raj dengan izin Allah SWT telah bertemu dan melihat Allah SWT dengan cara yang hanya Allah SWT dan Rasulullah SAW yang mengetahuinya.

37. Menyintai seluruh Ahli Bait Nabi SAW termasuk Kedua Orang-tuanya, dan para Istrinya serta Keturunannya yang beriman.

38. Meyakini bahwa kedua orang tua Nabi SAW, yaitu Abdullah dan Aminah, bukan musyrik atau pun kafir, melainkan sebagai Ahli Fatroh yang tidak dihisab dan tidak diazab, bahkan kelak akan masuk Surga.

39. Menyintai seluruh Shahabat Nabi SAW dan memuliakannya serta menjadikannya sebagai panutan umat Islam,

40. Meyakini bahwa yang masuk Islam pertama dari kalangan wanita adalah KHADIJAH, dan dari kalangan pria adalah ABU BAKAR, serta dari kalangan anak-anak adalah ALI, lalu dari kalangan Hamba Sahaya adalah BILAL, rodhiyallaahu ‘anhum.

41. Meyakini bahwa semua UMMAHATUL MU’MININ adalah wanita-wanita mulia pilihan Allah SWT untuk menjadi isteri-isteri Rasulullah SAW yang baik dan setia.

42. Mengakui keabsahan Kekhilafahan Khulafa Rasyidin yang lima yaitu : Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali dan Al-Hasan, rodhiyallaahu ‘anhum.

43. Meyakini bahwa Shahabat Nabi SAW yang terbaik secara berurut adalah Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali, rodhiyallaahu ‘anhum.

44. Menerima riwayat hadits para Shahabat Nabi SAW tanpa terkecuali, karena semua Shahabat adil dalam periwayatan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

45. Meyakini hubungan baik antara Ahlul Bait dan para Shahabat Nabi SAW, sehingga memaklumi perbedaan pendapat yang terjadi di antara mereka

46. Menahan diri untuk tidak membahas perselisihan dan pertikaian yang terjadi di antara Ahlul Bait mau pun para Shahabat Nabi SAW, kecuali untuk menangkal penyesatan penafsiran sejarah yang menumbuhkan kebencian terhadap Ahlul Bait mau pun Shahabat.

47. Menerima bahwa Tsaqolain adalah Dua Pusaka Peninggalan Nabi SAW yaitu : Pertama, Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menjadi satu kesatuan tak terpisahkan dalam pengamalan, karena As-Sunnah merupakan penjelas isi kandungan Al-Qur’an. Dan kedua, Ahli Bait Nabi SAW yang merupakan penjaga dan pembela Al-Qur’an dan As-Sunnah sepanjang zaman.

48. Meyakini keberadaan Keturunan Rasulullah SAW sebagai Ahli Bait hingga saat ini, bahkan hingga datangnya Imam Mahdi di akhir zaman yang juga merupakan Keturunan Nabi SAW.

49. Meyakini kedatangan Imam Mahdi dari Dzuriyah Nabi SAW yang akan memimpin dunia dengan Adil dan Bijaksana.

50. Meyakini turunnya Nabi ‘Isa AS di akhir zaman sebagai umat Nabi Muhammad SAW dan Pembela Islam.

51. Meyakini bahwa agama Islam adalah agama yang kamil (sempurna) sehingga tidak boleh ada penambahan atau pun pengurangan, apalagi perubahan, terhadap ajaran Islam.

52. Meyakini bahwa agama Islam adalah agama yang syamil (lengkap) sehingga ajarannya mencakup Aqidah dan Ibadah serta Muamalah di semua sektor kehidupan umat manusia.

53. Meyakini bahwa Hukum Islam adalah Hukum yang teradil dan terbaik, sehingga tidak ada satu pun produk hukum yang lebih baik dari Hukum Islam.

54. Meyakini bahwa agama yang benar hanya Islam, sedang selain Islam tidak benar, tapi tidak boleh menghina agama lain.

55. Menjunjung tinggi Pilar-Pilar Toleransi Antar Umat Beragama sebagaimana telah digariskan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

56. Meyakini bahwa Firqoh Najiah yang benar dan selamat hanya Ahlus Sunnah wal Jama’ah, tapi tidak boleh mengkafirkan firqoh di luar Aswaja kecuali yang terang dan nyata kekafirannya.

57. Mengakui bahwa Madzhab Aqidah Aswaja meliputi Asy’ari dan Maturidi, sedang Madzhab Fiqih Aswaja meliputi Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali.

58. Mengakui adanya Thoriqoh Sufiyah yang tetap berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, sehingga tidak melanggar Syariat Islam.

59. Mengakui bahwa semua Madzhab Islam, baik Aswaja mau pun Non Aswaja, adalah bersaudara, sehingga wajib membangun Toleransi Antar Madzhab untuk saling menjaga Ukhuwwah Islamiyyah.

60. Mendukung penggalakan Dialog Lintas Agama dan Lintas Madzhab untuk menda’wahkan Islam secara baik dalam rangka menciptakan Kedamaian Dunia sebagai bukti Islam yang Rahmatan Lil ‘Aalamiin,

61. Menolak segala bentuk Agitasi dan Adu Domba antar Madzhab mau pun antar Agama, termasuk adu domba Syariat dan Adat, juga adu domba Arab dan ‘Ajam.

62. Menolak segala bentuk Perang yang tidak dibenarkan secara Syariat Islam.

63. Menolak segala bentuk Pemurtadan dan Penyesatan terhadap umat Islam dimana pun dan kapan pun serta dengan alasan apa pun,

64. Menolak SEPILIS (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme), agar tidak ada pencampur-adukan agama dalam bentuk apa pun.

65. Meyakini bahwa Shalat Lima Waktu adalah Kewajiban Agama yang tidak boleh dijama’ atau diqashar kecuali ada ‘Udzur Syar’i yang dibenarkan Syariat.

66. Meyakini bahwa Shalat Jum’at, pemakaian Jilbab, memerangi kebodohan, menanggulangi kemiskinan, menegakkan keadilan, dan melawan kezoliman, adalah Kewajiban Agama.

67. Meyakini bahwa Dzikir Berjama’ah merupakan bagian dari Syariat Islam yang telah diatur syarat dan tata caranya.

68. Meyakini bahwa Mengangkat Tangan dalam Doa merupakan bagian dari Syariat Islam yang telah diatur syarat dan tata caranya.

69. Meyakini bahwa Ziarah Kubur merupakan bagian dari Syariat Islam yang telah diatur syarat dan tata caranya, apalagi Ziarah Kubur Rasulullah SAW dan Ahlul Bait serta Shahabat, juga Ziarah Kubur para Auliya’ dan Ulama Sholihin.

70. Meyakini bahwa Tabarruk merupakan bagian dari Syariat Islam yang telah diatur syarat dan tata caranya.

71. Meyakini bahwa Tawassul merupakan bagian dari Syariat Islam yang telah diatur syarat dan tata caranya.

72. Meyakini bahwa Bekam dan Ruqyah serta Thibbun Nabawi lainnya untuk pengobatan Jasmani mau pun Rohani dengan Ayat dan Dzikir serta Sholawat dan Doa merupakan bagian dari Syariat Islam yang telah diatur syarat dan tata caranya.

73. Meyakini bahwa Talqin Mayyit Muslim merupakan bagian dari Syariat Islam yang telah diatur syarat dan tata caranya.

74. Meyakini bahwa Hadiah Pahala Doa, Bacaan Al-Qur’an, Sedekah, Puasa dan Haji, serta yang sejenisnya buat Mayyit Muslim sampai dan manfaat.

75. Meyakini bahwa Kenduri setelah kematian untuk mendoakan mayyit dan menghibur keluarga mayyit selama tidak menimbulkan mudharat hukumnya boleh, bahkan baik.

76. Meyakini bahwa Bid’ah adalah sesuatu yang tdk pernah dilakukan Nabi SAW, jika bertentangan dg Syariat disebut Bid’ah Sayyi-ah yg harus ditolak, sdg jika tdk bertentangan dg Syariat disebut Bid’ah Hasanah yang boleh diterima.

77. Meyakini bahwa Peringatan Hari Besar Islam seperti Tahun Baru Islam, Maulid Nabi dan Isra Mi’rajnya, adalah boleh, bahkan bisa menjadi Syiar untuk Da’wah Islam.

78. Meyakini bahwa Adzan Dua kali dalam panggilan Shalat Jum’at adalah boleh, karena dilakukan oleh Sayyiduna Utsman RA dan tidak ditolak oleh Jumhur Shahabat Nabi SAW.

79. Meyakini bahwa Shalat Sunnah Tarawih yang disepakati Empat Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali adalah 20 (dua puluh) raka’at.

80. Meyakini keutamaan Sholawat atas Nabi SAW dan kebolehan membaca Sholawat dengan aneka susunan yang dibuat para Sholihin dari kalangan Ulama Salaf mau pun Kholaf.

81. Meyakini keutamaan memberi gelar Sayyiduna dan gelar kemuliaan lainnya kepada Rasulullah SAW.

82. Meyakini kebolehan pemberian gelar kehormatan untuk Ahlul Bait dan Shahabat Nabi SAW, serta Tabi’in dan Tabi’it Tabi’in, mau pun Ulama dan Zu’ama yang sholihin.

83. Meyakini bahwa Perdukunan, Sihir, Khamar (Apa saja yang mabukkan / menghilangkan akal), Judi, Riba, Menjarah, Merampok, Menipu, Mencuri, Korupsi, Zina, Selingkuh, Melacur, Pornografi, Pornoaksi, Nikah Mut’ah dan LGBT (Lesbi, Gay, Bisexual dan Transgender) serta Membunuh tanpa hak, Menganiaya dan Premanisme, hukumnya adalah Haram.

84. Meyakini bahwa Medan Juang Islam terdiri dari Da’wah, Hisbah dan Jihad, yang ketiganya wajib diisi oleh Ahlinya dan harus disinergikan sehingga saling melengkapi dan juga saling menyempurnakan.

85. Meyakini bahwa Da’wah harus dilaksanakan dengan santun lembut, ramah tamah, arif bijak, penuh hikmah dan kesuri-tauladanan.

86. Meyakini bahwa Hisbah sebagai Amar Ma’ruf Nahi munkar harus dilakukan dengan tegas, tapi tetap harus cerdas dan didahului dengan Da’wah.

87. Meyakini bahwa Jihad fii Sabilillah sebagai Perang Suci di jalan Allah SWT harus ditegakkan dengan keras, tapi tetap beradab dan berkakhlaqul-karimah, serta didahului dengan Da’wah.

88. Meyakini bahwa perang dalam Islam bukan untuk ciptakan lawan dan keonaran, tapi semata-mata hanya untuk ciptakan kedamaian dan tegakkan keadilan dalam menuju Ridho Allah SWT.

89. Meyakini bahwa Da’wah adalah Pintu Gerbang Utama bagi Hisbah dan Jihad, sehingga tidak ada Hisbah mau pun Jihad tanpa didahului dengan Da’wah.

90. Meyakini kewajiban memperjuangkan penerapan Syariah dan penegakan Khilafah sesuai Manhaj Nubuwwah.

91. Meyakini bahwa Islam adalah agama Langit yang datang dari Allah SWT Sang Pencipta dan Pemilik Semesta, sehingga dimana pun Islam hadir akan selalu menjadi pribumi dan tidak akan pernah menjadi pendatang.

92. Menolak Arabisasi mau pun ‘Ajamisasi Islam, tapi memperjuangkan Islamisasi Arab dan ‘Ajam, karena Islam untuk seluruh umat manusia.

93. Meyakini bahwa ajaran Islam bukan Budaya Arab atau pun Budaya ‘Ajam, tapi ajaran Islam punya pengaruh kuat, sehingga telah membudaya dalam kehidupan bangsa Arab mau pun ‘Ajam.

94. Meyakini bahwa Hak Asasi Manusia (HAM) harus sejalan dengan Kewajiban Asasi Manusia (KAM) yang telah ditetapkan Allah SWT dan Rasulullah SAW.

95. Menolak Sistem Demokrasi Barat dan memperjuangkan Sistem Islam yang menjunjung tinggi Musyawarah.

96. Menolak Sistem Ekonomi Sosialis mau pun Kapitalis, tapi memperjuangkan Sistem Ekonomi Islam yang bersih dari Riba dan Ketidak-adilan.

97. Menolak Kesetaraan Gender, tapi memperjuangkan Keserasian Gender atas dasar keadilan sebagaimana yang diajarkan Islam.

98. Mendukung perjuangan Tathbiq Syariah di seluruh negeri-negeri Islam, karena Tathbiq Syariah adalah Kewajiban Agama.

99. Mendukung perjuangan penegakan Khilafah Islamiyyah ‘Alamiyyah karena Kekhilafahan Islam adalah Kewajiban Agama.

100. Meyakini bahwa umat Islam wajib memilih pemimpin muslim dan haram memilih pemimpin non muslim.

101. Meyakini kewajiban Al-Walaa wal Barroo’ yaitu memberikan totalitas kepatuhan kepada Hukum Allah SWT dan melepaskan diri dari segala Hukum Thoghut.

102. Meyakini bahwa secara Wurud / Tsubut, semua Nash Mutawatir bersifat Qoth’i, sedang Nash Ahad bersifat Zhonni.

103. Meyakini bahwa secara Dilalah, semua Nash yang Monotafsir bersifat Qoth’i, sedang Nash yang Multitafsir bersifat Zhonni.

104. Meyakini bahwa semua ayat Al-Qur’an dan Hadits Mutawatir dari segi Wurud / Tsubut bernilai Qoth’i, sedang dari segi Dilalah ada yang Qoth’i dan ada yang Zhonni.

105. Meyakini bahwa setiap masalah yang memiliki Dalil Qoth’i secara Wurud / Tsubut dan Dilalah merupakan masalah USHULUDDIN.

106. Meyakini bahwa setiap masalah yang memiliki Dalil Zhonni secara Wurud / Tsubut dan Dilalah merupakan masalah FURU’UDDIN.

107. Meyakini bahwa setiap masalah yang memiliki Dalil Qoth’i secara Wurud / Tsubut, tapi Zhonni secara Dilalah juga merupakan masalah FURU’UDDIN.

108. Meyakini bahwa setiap masalah yang memiliki Dalil Zhonni secara Wurud / Tsubut, tapi Qorh’i secara Dilalah merupakan masalah USHUL MADZHAB.

109. Meyakini bahwa Aswaja adalah golongan yang I’tidaal (Adil), Inshoof (Netral), Tawassuth (Pertengahan), Tawaazun (Seimbang) dan Tasaamuh (Toleran).

DOA & HARAPAN

Disana masih banyak lagi ciri-ciri Aswaja yang telah diuraikan oleh para Ulama Aswaja yang Salaf mau pun Khalaf. Dan semua ciri Aswaja wajib menjadi ciri keaswajaan FPI.

Insya Allah, FPI akan senantiasa menjadi RUMAH BERSIH ASWAJA, dan sekaligus selalu menjadi BENTENG SUNNI ASY’ARI SYAFI’I.

Aamiiin …

*Kendaraan Seorang Bijak*

Matahari di padang pasir terasa membakar. Hanya sesekali angin bertiup, menerbangkan debu-debu yang memerihkan mata. Membuat seorang pemuda kerepotan mengarungi samudera pasir yang membentang luas. Namun, hatinya sedikit tenang. Unta yang di tungganginya masih muda dan kuat. Ia berharap kendaraannya ini sanggup untuk menempuh perjalanan yang jauh. Karena masih ada separuh perjalanan lagi yang harus ditempuh Sang Pemuda .
“Mudah – mudahan aku selamat sampai Makkah,” katanya penuh harap. “Dan, segera melihat Baitullah yang selama ini aku rindukan .”
Panggilan rukun Islam kelima itulah yang telah membulatkan tekadnya mengarungi padang pasir yang terik .
Di tengah perjalanan, tiba – tiba Pemuda itu menatap tajam ke arah seseorang yang tengah berjalan sendirian di padang pasir .
‘Kenapa orang itu berjalan sendiri di tempat seperti ini ?’ tanya pemuda itu dalam hati. Sungguh berbahaya .
Pemuda tersebut menghentikan untanya di dekat orang itu. Ternyata, ia adalah seorang lelaki tua. Berjalan terseok – seok di bawah terik matahari. Lalu, Pemuda itu segera turun dari kendaraannya dan menghampiri .
“Wahai Bapak Tua, Bapak mau pergi ke mana ?” tanyanya ingin tahu .
“In syaa Allah, aku akan ke Baitullah ,” jawab orang tua itu dengan tenang .
“Benarkah ?!” Pemuda itu terperanjat. Apa orang tua itu sudah tidak waras ? Ke Baitullah dengan berjalan kaki ?
“Betul Nak, aku akan melaksanakan ibadah haji ,” kata orang tua itu meyakinkan .
“Maa sya Allah, Baitullah itu jauh sekali dari sini. Bagaimana kalau Bapak tersesat atau mati kelaparan ? Lagipula, semua orang yang kesana harus naik kendaraan. Kalau tidak naik unta, bisa naik kuda. Kalau berjalan kaki seperti Bapak, kapan Bapak bisa sampai ke sana ?” Pemuda itu tercenung, merasa takjub dengan Bapak Tua yang ditemuinya .
Ia yang menunggang unta dan membawa perbekalan saja, masih merasa khawatir selama dalam perjalanan yang begitu jauh dan berbahaya. Siapapun tak akan sanggup menempuh perjalanan sejauh itu dengan berjalan kaki. Apa ia tidak salah bicara ? Atau memang orang tua itu sudah terganggu ingatannya ?
“Aku juga berkendaraan ,” kata Bapak Tua itu mengejutkan .
Si Pemuda yakin kalau dari kejauhan tadi, ia melihat orang tua itu berjalan sendirian tanpa kendaraan apa pun. Tapi, Bapak Tua itu malah mengatakan dirinya memakai kendaraan .
Orang ini benar-benar sudah tidak waras. Ia merasa memakai kendaraan, padahal aku lihat ia berjalan kaki … pikir si Pemuda geli .
“Apa Bapak yakin kalau Bapak memakai kendaraan ?” tanya Sang Pemuda itu menahan senyumnya .
“Kau tidak melihat kendaraanku ?” orang tua itu malah mengajukan pertanyaan yang membingungkan. Si Pemuda, kini tak dapat lagi menyembunyikan kegeliannya .
“Kalau begitu, apa kendaraan yang Bapak pakai ?” tanyanya sambil tersenyum .
Orang tua itu termenung beberapa saat. Pandangannya menyapu padang pasir yang luas. Dengan sabar, si Pemuda menunggu jawaban yang akan keluar dari mulut orang tua itu. Akankah ia mampu menjawab pertanyaan tadi ?
“Kalau aku melewati jalan yang mudah, lurus, dan datar, kugunakan kendaraan bernama Syukur. Jika aku melewati jalan yang sulit dan mendaki, kugunakan kendaraan bernama Sabar ,” jawab orang tua itu tenang .
Si Pemuda ternganga dan tak berkedip mendengar kata-kata orang tua itu. Tak sabar, pemuda itu ingin segera mendengar kalimat selanjutnya dari lelaki tua tersebut .
“Jika takdir menimpa dan aku tidak sampai ke tujuan, kugunakan kendaraan Ridha. Kalau aku tersesat atau menemui jalan buntu , kugunakan kendaraan Tawakkal. Itulah kendaraanku menuju Baitullah ,” kata Bapak Tua itu melanjutkan .
Mendengar kata-kata tersebut, si Pemuda merasa terpesona. Seolah melihat untaian mutiara yang memancar indah. Menyejukkan hati yang sedang gelisah, cemas, dan gundah. Perkataan orang tua itu amat meresap ke dalam jiwa anak muda tersebut .
“Maukah Bapak naik kendaraanku ? Kita dapat pergi ke Baitullah bersama-sama ,” ajak si Pemuda dengan sopan. Ia berharap akan mendengarkan untaian-untaian kalimat mutiara yang menyejukkan jiwa dari orang tua itu .
“Terima kasih Nak, Allah sudah menyediakan kendaraan untukku. Aku tak boleh menyia-nyiakannya. Dengan ikut menunggang kendaraanmu, aku akan menjadi orang yang selamanya bergantung kepadamu ,” sahut orang tua itu dengan bijak, seraya melanjutkan perjalanannya .
Ternyata, orang tua itu adalah Ibrahim bin Adham, seorang ulama yang terkenal dengan kebijaksanaannya .
Refleksi Hikmah :
Untuk menempuh perjalanan kehidupan yang kita lalui ini. Bukan mobil mewah yang kita butuhkan sebagai kendaraan kita. Bukan pula harta melimpah yang kita butuhkan untuk bekal mengarungi kehidupan ini .

Cukup hati yang lapang, yang dapat menampung segala kemungkinan keadaan. Menyediakan bahan bakar Syukur, Sabar, Ridha dan Tawakkal. Hidup akan terasa lebih indah jika merasa bahagia.Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ ۚ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS Al-‘Ankabut: 64).

Allah Azza wa Jalla juga berfirman dalam surat Al-Hadid ayat ke-20,

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”

Assalamu’alaikum wr wb.
Sebahagian kita mungkin ada yg belum mdpt post ini….ga sadar sampai netes air mata sy bacanya,semoga bermanfaat..

*Assalamu’alaikum wr wb..*

*HALAL BUAT KAMI, HARAM BUAT TUAN*

*Cerita dari : Ulama Abu Abdurrahman Abdullah Bin Al-Mubarak Al Hanzhali Al Marwazi*
Ulama terkenal di Makkah.

Suatu ketika, setelah selesai menjalani salah satu ritual haji, ia beristirahat dan tertidur.
Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yg turun dari langit. Ia mendengar percakapan mereka :

“Berapa banyak yg datang tahun ini?”
tanya malaikat kepada malaikat lainnya.
“Tujuh ratus ribu,” jawab malaikat lainnya.
“Berapa banyak mereka yg ibadah hajinya diterima?”
“Tidak satupun”
Percakapan ini membuat Abdullah gemetar.
“Apa..?”
ia menangis dalam mimpinya.
“Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yg jauh, dengan kesulitan yg besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?”

Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar cerita kedua malaikat itu.
*”Namun ada seseorang, yg meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni. Berkat dia seluruh haji mereka diterima oleh Allah.”*

“Kok bisa”
“Itu Kehendak Allah”
“Siapa orang tersebut?”
“Sa’id bin Muhafah tukang sol sepatu di kota Damsyiq Damaskus”

Mendengar ucapan itu, ulama itu langsung terbangun, Sepulang haji, ia tidak langsung pulang kerumah, tapi langsung menuju kota Damaskus, Siria.
Sampai disana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yg namanya Sa’id bin Muhafah.
“Ada, di tepi kota”
Jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya.
Sesampai disana ulama itu menemukan tukang sepatu yg berpakaian lusuh,
“Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah?” tanya Ulama itu
“Betul, siapa tuan?”
“Aku Abdullah bin Mubarak”
Said pun terharu, “bapak adalah ulama terkenal, ada apa mendatangi saya?”
Sejenak Ulama itu kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaanya, akhirnya ia pun menceritakan perihal mimpinya.
“Saya ingin tahu, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur?”
“Wah saya sendiri tidak tahu!”
“Coba ceritakan bagaimana kehidupan anda selama ini.
Maka Sa’id bin Muhafah bercerita.
“Setiap tahun, setiap musim haji, aku selalu mendengar :

Labbaika Allahumma labbaika. Labbaika la syarika laka labbaika. Innal hamda wanni’mata laka wal mulka. laa syarika laka.

Ya Allah, aku datang karena panggilanMu.
Tiada sekutu bagiMu.
Segala ni’mat dan puji adalah kepunyaanMu dan kekuasaanMu. Tiada sekutu bagiMu.

Setiap kali aku mendengar itu, aku selalu menangis
Ya allah aku rindu Mekah.
Ya Allah aku rindu melihat kabah.
Ijinkan aku datang…..
Ijinkan aku datang ya Allah..

Oleh karena itu, sejak puluhan tahun yang lalu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu.
Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Akhirnya pada tahun ini, saya punya 350 dirham, cukup untuk saya berhaji.
“Saya sudah siap berhaji”
“Tapi anda batal berangkat haji”
“Benar”
“Apa yang terjadi?”
“Istri saya hamil, dan sering ngidam.
Waktu saya hendak berangkat saat itu dia ngidam berat”
“Suami ku, engkau mencium bau masakan yang nikmat ini?
“ya sayang”
“Cobalah kau cari, siapa yang masak sehingga baunya nikmat begini.
Mintalah sedikit untukku”
“Ustadz, sayapun mencari sumber bau masakan itu.
Ternyata berasal dari gubuk yang hampir runtuh. Disitu ada seorang janda dan enam anaknya.
Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin masakan yang ia masak, meskipun sedikit.
Janda itu diam saja memandang saya, sehingga saya mengulangi perkataan saya.
Akhirnya dengan perlahan ia mengatakan :
“tidak boleh tuan”
“Dijual berapapun akan saya beli”
“Makanan itu tidak dijual, tuan” katanya sambil berlinang mata.
Akhirnya saya tanya kenapa?
Sambil menangis, janda itu berkata “daging ini halal untuk kami dan haram untuk tuan” katanya.

Dalam hati saya:
Bagaimana ada makanan yang halal untuk dia, tetapi haram untuk saya, padahal kita sama-sama muslim?
Karena itu saya mendesaknya lagi “Kenapa?”
“Sudah beberapa hari ini kami tidak makan. Dirumah tidak ada makanan. Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk dimasak.
“Bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakannya kami akan mati kelaparan. Namun bagi Tuan, daging ini haram”.
Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang.

Saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun menangis, kami akhirnya memasak makanan dan mendatangi rumah janda itu.
“Ini masakan untuk mu”
Uang peruntukan Haji sebesar 350 dirham pun saya berikan pada mereka.
”Pakailah uang ini untuk mu sekeluarga.
Gunakan untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi”
Ya Allah……… disinilah Hajiku
Ya Allah……… disinilah Mekahku.

Mendengar cerita tersebut Abdullah bin Mubarak
tak bisa menahan air mata.
Kisah ini memberi hikmah, bahwa membantu orang disekitar kita bisa jadi sama nilainya dengan pergi Haji di mata Allah.
Buat yang akan naik haji ….
atau yang sudah berhaji…
Saudaraku …………Ingat …

Ada dua yang tidak kekal dalam diri manusia !
Yakni : Masa Muda dan Kekuatan Fisiknya.
Jangan Lupa … Ada dua juga yang akan bermanfaat bagi semua orang !
Yakni : Budi Pekerti yang luhur serta Jiwa yang ikhlas memaafkan.
Perhatikan .. Ada dua pula yang akan mengangkat derajat kemulian manusia !
Yakni : Rendah hati dan suka meringankan beban hidup orang lain.
Dan ada dua yang akan menolak datangnya bencana ! Yakni : Sedekah serta menjalin hubungan silaturrahim. Semoga kita menjadi orang orang yang dimuliakan Allah SWT Aamiiin.
—————-
Bila berkenan, Silahkan di share ya..
Karena setiap orang yang membaca
Akan menemukan pengalaman hikmah.( semoga bermanfaat )👍🙏

PAHAM YANG MEMBUMI

Ada tulisan BAGUS SEKALI kiriman Sseseorang yang tak ada nama penulisnya ( semoga Alloh memuliakan beliau )

🍵 *”SECANGKIR ILMU PAHAM”.*

Tingkat terbawah dalam ilmu itu adalah *”paham”.*
Ini wilayah kejernihan logika berfikir dan kerendahan hati. Ilmu tidak membutakannya, malah menjadikannya kaya.

Tingkat ke dua terbawah adalah *”kurang paham”.*
Orang kurang paham akan terus belajar sampai dia paham …, dia akan terus bertanya untuk mendapatkan simpul2 pemahaman yang benar …!

Naik setingkat lagi adalah mereka yang *salah paham.* Salah paham itu biasanya karena emosi dikedepankan, sehingga dia tidak sempat berfikir jernih. Dan ketika mereka akhirnya paham, mereka biasanya meminta maaf atas kesalah-pahamannya. Jika tidak, dia akan naik ke tingkat tertinggi dari ilmu.

Nah, tingkat tertinggi dari ilmu itu adalah *gagal paham.* Gagal paham ini biasanya lebih karena *kesombongan.*

Karena merasa berilmu, dia sudah tidak mau lagi menerima ilmu dari orang lain.
Tidak mau lagi menerima masukan dari siapapun (baik itu nasehat dll ), atau pilih-pilih hanya mau menerima ilmu (nasehat) dari yang dia suka saja …, bukan ilmu yg disampaikan, tapi siapa yang menyampaikan …?

Tertutup hatinya.
Tertutup akal pikirannya.
Tertutup pendengarannya.
Tertutup logikanya.

*_Ia selalu merasa cukup dengan pendapatnya sendiri._*

_*Parahnya lagi …,*_

Dia tidak menyadari bahwa pemahamannya yang gagal itu, menjadi bahan tertawaan orang yang paham.

Dia tetap dengan dirinya,
dan dia bangga dengan
*ke-gagal paham-annya …*

“Kok *paham* ada di tingkat terbawah dan *gagal paham* di tingkat yang paling tinggi ? Apa tidak terbalik ?”

“Orang semakin paham akan semakin membumi, menunduk, merendah.”

Dia menjadi bijaksana, karena akhirnya dia tahu, bahwa sebenarnya banyak sekali ilmu yang belum dia ketahui, dia merasa se-akan2 dia tidak tahu apa-apa …

Dia terus mau menerima ilmu, darimana-pun ilmu itu datangnya.

Dia tidak melihat siapa yang bicara, tetapi dia melihat …, apa yang disampaikan …!

Dia paham …,

*ilmu itu seperti air, dan air hanya mengalir ke tempat yang lebih rendah.*

Semakin dia merendahkan hatinya, semakin tercurah ilmu kepadanya.

Sedangkan gagal paham itu ilmu tingkat tinggi.

*dia seperti balon gas* yang berada di atas awan.

Dia terbang tinggi dengan kesombongannya …,
Memandang rendah ke-ilmuan lain yang tak sepaham dengannya,

*Dan merasa akulah kebenaran … !!!*

Masalahnya …, dia tidak mempunyai pijakan yang kuat, sehingga mudah ditiup angin, tanpa mampu menolak.
Sering berubah arah, tanpa kejelasan yang pasti.

Akhirnya dia terbawa ke-mana2 sampai terlupa jalan pulang …, dia tersesat dengan pemahamannya dan lambat laun akan dibinasakan oleh kesombongannya …

Dia akan mengakui ke-gagal paham-annya …, dengan penyesalan yang amat sangat dalam.

“Jadi yang perlu diingat …,
*akal akan berfungsi dengan benar, ketika hatimu merendah …*
_*Ketika hatimu meninggi.., maka ilmu juga-lah yang akan membutakan si pemilik akal …”*_

Ternyata di situlah kuncinya.

_”Lidah orang bijaksana, berada didalam hatinya, dan tidak pernah melukai hati siapapun yang mendengarnya …, tetapi hati orang dungu, berada di belakang lidahnya, selalu hanya ingin perkataannya saja yang paling benar dan harus didengar … !!!”_

_*”Ilmu itu open ending”*_
Makin digali makin terasa dangkal.
Jadi kalau ada orang yang merasa sudah tahu segalanya, berarti dia tidak tahu apa2 … !!!”

*Semoga bermanfaat. Aamiin*

Antara Isi dan Bungkusnya

*Pilih KUTANG 36B*

          *atau*

      *ISI-nya 36B*
Oleh: Emha Ainun  Nadjib
Hidup akan sangat melelahkan, sia-sia & menjemukan bila Anda hanya menguras pikiran untuk mengurus BUNGKUS-nya saja dan mengabaikan ISI-nya. Maka, bedakanlah apa itu “BUNGKUS”-nya & apa itu “ISI”-nya.
“Rumah yg indah” hanya bungkusnya

“Keluarga bahagia” itu isinya.
“Pesta pernikahan” hanya bungkusnya

“Cinta kasih, Pengertian, & Tanggung jawab” itu isinya.
“Kekayaan” itu hanya bungkusnya,

“Hati yang gembira” itu isinya.
“Makan enak” hanya bungkusnya,

“Gizi, energi, dan sehat” itu isinya.
“Kecantikan dan Ketampanan” hanya bungkusnya;

“Kepribadian dan Hati” itu isinya.
“Bicara” itu hanya bungkusnya,

“Kenyataan” itu isinya.
“Buku” hanya bungkusnya;

“Pengetahuan” itu isinya.
“Jabatan” hanya bungkusnya,

“Pengabdian dan pelayanan” itu isinya.
“Pergi ke tempat ibadah” itu bungkusnya,

“Melakukan Ajaran Agama” itu isinya.
“Kharisma” hanya bungkusnya,

“Karakter” itu isinya.
“Rizqi” itu hanya bungkusnya.

“Barokah” itu isinya.
Utamakanlah *isi*nya, serta tetaplah merawat *bungkus*nya dengan baik…
*Maaf kalau teman-teman dari tadi  nunggu2 mana tuh isinya kutang kok tidak muncul2*
*Makanya… jgn lihat Judul tp lihatlah Isi nya*😁😁😁😁😁

📓📕📗📘📙📔

ARTIKEL MALAM 
Hari/Tgl : Senin, 27 Februari 2017

                   01 Jumadil Akhir 1438 H

No            : 726/AM/KOM/II/2017

Materi.     : Psikologi

Pemateri : Ustadzah Dwi Hastuti R.S.Psi

Tujuan     : KUTUber & Umum

==============================

🌾🌾🌻🌾🌾🌻🌾🌾🌻🌾🌾
*📚 Merencanakan Masa Depan*
♨ Apapun harapan dan cita-citamu, berikut ini ada 5 kunci sukses masa depanmu. 5 kunci tersebut juga merupakan cara untuk mengasah potensi dan menggapai cita-cita. 
⭕ Kunci 1 : Imajinasi
● Imajinasi adalah kemampuan untuk memimpikan cita-cita yang tinggi, membuat visi tentang masa depan, berupaya untuk mengatasi berbagai rintangan dan tantangan.
● Cobalah untuk berimajinasi dan buatlah jurnal, tuliskan mimpi-mimpimu.
⭕ Kunci 2 : Percaya Diri
● Percaya diri membuat kamu sadar bahwa kamu memiliki modal yg cukup untuk sukses. Waktu dan kesehatan adalah modal utama untuk mengejar kesempatan. Yakinlah dengan kemampuanmu dan berkomitmen untuk maju, meski berada pada saat-saat penuh kesulitan.
● Coba buatlah daftar langkah-langkah apa yang dapat kamu lakukan untuk meningkatkan kepercayaan diri. Then, just do it.
⭕ Kunci 3 : Kemampuan Mengambil Resiko
● Kemampuan untuk mengambil resiko adalah sikap berani yang sama artinya dengan tidak takut gagal, berani mencoba, jujur terhadap kemampuan diri, mau belajar dari kesalahan, dan tidak patah semangat untuk terus melatih diri dan mencapai tujuan.
● Pada saat kamu dihadapkan pada pilihan-pilihan, cobalah tulis di kertas, uraikan “pro” dan “kontra” atau “positif” dan “negatif” dari pilihan tersebut. Jika ada risiko dari pilihan yang kamu tentukan, tulis sebanyak mungkin alasan mengapa kamu harus mengambil resiko tersebut.
⭕ Kunci 4 : Keberanian
View full article »

Kita atau Orang Lain

*APANYA YANG HARUS KITA SOMBONGKAN?*
*Lahir* : ditolong oleh *Orang lain*
*Nama* : diberi oleh *Orang lain*
*Pendidikan* : didapat dari *Orang lain*
*Gaji* : diterima dari *Orang lain*
*Kehormatan*: diberikan oleh *Orang lain*
*Mandi pertama*: dilakukan oleh *Orang lain*.
*Mandi terakhir*: dilakukan oleh *Orang lain*
*Harta setelah meninggal*: menjadi hak *Orang lain*
*Pemakaman* : dilakukan oleh *Orang lain*
Ternyata sejak lahir hingga meninggal kita selalu membutuhkan *Orang Lain*.
Kita mulai sadar bahwa hidup ini membutuhkan orang lain :

*DIMANA KEHEBATAN KITA*
Ternyata, kita bukanlah siapa-siapa tanpa “ORANG LAIN”.
Bersahabatlah dengan semua orang karena kita tidak tahu kapan kita membutuhkan bantuan mereka. 

👬👬👬👬👬👬👬🙏💕

🍃EMPAT PROSES TAHAPAN DALAM MENCINTAI TAHAJUD🍃
🐓 DIPAKSA

Paksakan diri untuk Tahajjud,suka atau tidak,ringan ataupun berat..paksakan diri tuk bangun tengah malam menjelang subuh…

🐑 KEBIASAAN

Beberapa bentuk paksaan akan berubah menjadi ‘kebiasaan’.

Kita akan merasaa aneh jika tidak TAHAJUD, kita akan terbiasa bangun saat jam tahajud, walaupun tanpa alarm.

Lanjutkan.

🐂 KEBUTUHAN

Kebiasaan yg trs di lakukan akan berubah menjadi ‘kebutuhan’.

Di tahap ini sudah mulai tumbuh benih-benih cinta TAHAJUD, Akan merasa rugi jika tidak tahajud…

🐪 KENIKMATAN

Pada tahap ini TAHAJUD sudah menjadi candu. sholat tahajjud berlama lama adalah ‘kenikmatan’.

Sedangkan ketika terlewat tidak tahajud akan membuat diri resah.

Yang perlu kita lakukan adalah ‘istiqomah’ dan mengajak sebangak banyak nya orang untuk TAHAJJUD agar mereka pun dapat merasakan nikmatnya BERTAHAJUD..

Ada ditahap manakah kita?
#salamrobkutub

Seorang pria muda datang pada ibunya dan mengeluh tentang banyak permasalahan dalam kehidupannya.
Namun betapa kagetnya, karena ternyata ibunya hanya diam saja, seolah tidak ingin mendengarkan keluh kesahnya.

Bahkan sang ibu malah masuk ke dapur dan anaknya terus bercerita sambil mengikutinya. 
Sang ibu lalu memasak air. 

Sampai airnya mendidih, lalu sang ibu menuangkan ‘Air Panas Mendidih’ itu ke dalam 3 gelas yang telah disiapkan.
Di gelas pertama ia masukkan WORTEL, di gelas kedua, ia masukkan TELUR, dan di gelas ketiga, ia masukkan TEH.
Setelah menunggu beberapa, ia mengangkat isi ketiga gelas tadi, dan hasilnya:

• WORTEL yang KERAS  menjadi LUNAK, 

• TELUR yang mudah PECAH menjadi KERAS,

• dan TEH menghasilkan aroma yang HARUM.
Lalu sang ibu menjelaskan: 

“Nak….. MASALAH DALAM HIDUP ITU BAGAIKAN AIR MENDIDIH. 

Namun, sikap kitalah yang akan menentukan dampaknya. 
Kita bisa menjadi Lembek seperti Wortel, mengeras seperti Telur, atau harum seperti TEH.
Wortel dan telur bukan mempengaruhi air, tetapi malah berubah karena air mendidih itu, 

sementara TEH malah mengubah AIR, membuatnya menjadi HARUM.
”Setiap Masalah, selalu tersimpan Mutiara Iman yang berharga. 

Sangat mudah untuk bersyukur saat keadaan baik-baik saja. 

Tapi apakah kita dapat tetap percaya saat pertolongan Alloh swt seolah tidak kunjung datang?
Ada 3 reaksi orang saat masalah datang:

• Ada yang menjadi lembek, suka mengeluh (seperti wortel tadi) dan mengasihani diri sendiri. 

• Ada yang mengeras (seperti telur), marah dan berontak kepada Alloh swt 

• Ada juga yang justru semakin harum (seperti teh), menjadi semakin kuat dan percaya padaNYA.

Ada kalanya Alloh swt sengaja menunda pertolonganNYA. 

Apa tujuannya? 

Agar kita belajar percaya dan setia! 
Karena tidak pernah ada masalah yang tidak bisa Alloh swt selesaikan..
Selamat pagi dan Selamat menikmati Secangkir *Kopi* hangat 🍮☕🍵

Rahasia Zuhud: Hasan Basri

Renungan jumat
_*M U T I A R A   I L M U..*_
=====================

_Hasan Basri ditanyaj: Apa rahasia zuhudmu di dunia ini?_ 
_1. Aku tahu rizqiku tidak akan diambil orang lain, karena itu hatiku selalu tenang._ 
_2. Aku tahu amalku tidak akan dikerjakan orang lain, karena itulah aku sibuk beramal shaleh._ 
_3. Aku tahu ALLAH Ta’ala selalu memerhatikanku, karena itulah aku malu jika ALLAH melihatku sedang dalam maksiat._ 
_4. Dan aku tahu kematian itu sudah menungguku, karena itulah aku selalu menambah bekal untuk hari pertemuanku dengan ALLAH…_ 
           _Jangan tertipu_ 

        _dengan usia *MUDA*_ 

        _karena syarat Mati_ 

         _*TIDAK harus TUA.*_
   _Jangan terpedaya dengan_ 

        _tubuh yang *SEHAT*_ 

       _karena syarat Mati_ 

       _*TIDAK mesti SAKIT*_
_Jangan terperdaya dengan_ 

         _Harta Kekayaaan_

                   _sebab_ 

    _Si kaya pun tidak pernah_  

     _menyiapkan kain kafan_ 

               _buat dirinya_ 

      _meski cuma selembar._
      _Mari Terus berbuat *BAIK,*_

         _berniat untuk *BAIK,*_

     _berkata yang *BAIK-BAIK,*_ 

       _Memberi nasihat yang_    

        _*BAIK* Meskipun TIDAK_  

           _banyak orang yang_   

            _mengenalimu dan_ 

  _Tidak suka dgn Nasihatmu_
        _Cukup lah  اللهِ yang_ 

     _mengenalimu lebih dari_ 

           _pada orang lain._ 
      _Jadilah bagai *JANTUNG*_ 

        _yang tidak terlihat,_ 

     _tetapi terus berdenyut_ 

     _setiap saat hingga kita_ 

 _terus dapat hidup, berkarya_ 

     _dan menebar manfaat_ 

       _bagi sekeliling kita_ 

     _sampai diberhentikan_ 

              _oleh – *NYA*_

      

         

_”Waktu yang kusesali adalah_

         _jika pagi hingga_ 

      _matahari terbenam,_ 

 _amalku tidak bertambah_  _sedikit pun,  padahal aku_   

    _tahu saat ini umurku_ _berkurang “