Muawiyah bin Abu Sufyan (602 – 680) bergelar Muawiyah I adalah khalifah pertama dari Bani Umayyah.

Muawiyah diakui oleh kalangan Sunni sebagai salah seorang Sahabat Nabi, walaupun keislamannya baru dilakukan setelah Mekkah ditaklukkan. Kalangan Syi’ah sampai saat ini tidak mengakui Muawiyah sebagai khalifah dan Sahabat Nabi, karena dianggap telah menyimpang setelah meninggalnya Rasulullah SAW. Ia diakui sebagai khalifah sejak Hasan bin Ali, yang selama beberapa bulan menggantikan ayahnya sebagai khalifah, berbai’at padanya. Dia menjabat sebagai khalifah mulai tahun 661 sampai dengan 680.

Terjadinya Perang Shiffin makin memperkokoh posisi Muawiyah dan melemahkan kekhalifahan Ali bin Abu Thalib, walaupun secara militer ia dapat dikalahkan. Hal ini adalah karena keunggulan saat berdiplomasi antara Amru bin Ash (kubu Muawiyah) dengan Abu Musa Al Asy’ari (kubu Ali) yang terjadi di akhir peperangan tersebut. Seperti halnya Amru bin Ash, Muawiyah adalah seorang administrator dan negarawan ulungSahabat Nabi yang satu ini betul betul mewarisi darah ayahnya. Ia seorang yang cerdik, ahli strategi perang, prajurit perang yang pantang menyerah dan kelihaiannya dalam mengambil hati orang orang agar berpihak padanya. Dia adalah Muawiyah r.a, seorang sahabat yang pernah menjadi sekretaris Rasulullah SAW dan termasuk dalam team pencatat wahyu disamping sahabat sahabat yang lain seperti Zaid bin Tsabit r.a dan Ali bin Abi Thalib r.a. ayah dari Muawiyah adalah Abu Sufyan ibnu Harb r.a, seorang tokoh paling terkemuka dari Kaum Quraisy. Orang yang memimpin pasukan Quraisy pada perang Uhud. Juga seorang yang sukses dalam perniagaan dan hampir menguasai separo perdagangan semenanjung Arabia pada zaman itu. Abu Sufyan juga pernah memimpin pasukan Quraisy pada perang Khandaq dan ia menjadi orang nomor satu di Mekkah hingga akhirnya Rasulullah berhasil menaklukan Makkah pada peristiwa Fathul Makkah.

Muawiyah lahir dari rahim seorang wanita bangsawan Quraisy bernama Hindun binti Utbah, seorang wanita gesit dan cerdik yang menjadi motor penggerak bagi semangat pasukan Quraisy pada peperangan Uhud. Hal ini ia lakukan sebagai pembalasan atas musibah besar yang menimpanya ketika mereka kalah telak pada perang Badar. Hindun binti Utbah kehilangan ayah, paman, saudara dan puteranya. Untuk menuntut bela terhadap keluarganya itu, ia mengupah seorang budak keturunan Habsyah bernama Wahsyi sebagai pembunuh bayaran untuk membunuh dan mengambil jantung Hamzah paman Nabi dan syahid dengan cara diperlakukan yang tidak manusiawi. Jantung dari Hamzah r.a dimakannya mentah-mentah. Dan hidungnya dipotong. Usaha menuntut bela yang diinginkan Hindun dapat dicapainya. Tapi kesombongan Hindun dan keluarganya tidak berlangsung lama. Beberapa tahun kemudian Mekkah berhasil takluk oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Setelah Mekah ditaklukkan, bersamaan dengan suami dan anaknya ia pun masuk Islam.

Pada zaman Abu Bakar memimpin sebagai Khalifah Muawiyah ikut bersama pasukan muslimin menyerbu pasukan Romawi di Syam. Pasukan muslimin waktu itu dibawah pimpinan Yazid bin Abu Sufyan yang merupakan kakaknya sendiri. Serbuan ini berlangsung sukses dan kepemimpinan atau wali negeri Syam(Damsyiq) dipegang oleh Yazid bin Abu Sufyan. Setelah Yazid meninggal Muawiyah mengambil alih pimpinan pemerintahan dan kemudian oleh Khalifah Abubakar r.a. ditetapkan, menjadi wali negeri Syam sebagai pengganti kakaknya itu.

Pada masa Khalifah Umar Ibnu Khatthab r.a., ia masih menjadi wali negeri Damsyiq. Ketika Khalifah Umar r.a. meninjau Syam, beliau mendapatkan Muawiyah di Istananya yang sangat mewah. Hal ini sangat tidak disukai oleh Umar, ia merasa bahwa yang dilakukan ini sudah tidak wajar maka Khalifah yang terkenal zuhud ini berkata lantang “Ini adalaha Kisra dari Arab !”. Khalifah Umar pun kembali mempertimbangkan posisi Muawiyah dan setelah melalui berbagai penelusuran maka ia mencabut sementara posisi Muawiyah dan digantikan oleh Said bin Amir ,seseoarang yang terkenal sholeh dan hidup sederhana.

Baru kemudian pada masa Khalifah Utsman, Muawiyah diangkat kembali menjadi wali negeri seluruh Syam, termasuk Palestina. Banyak pengaduan rakyat kepada Khalifah Utsman tentang tindakan Muawiyah, termasuk tindakan semena mena yang kerap dilakukan anak anaknya. Akan tetapi sebagian besar surat pengaduan itu tidak disampaikan kepada Khalifah oleh sekretaris beliau yang bernama Marwan (saudara sepupu Muawiyah). Hal inilah yang menjadi cikal bakal fitnah atas terbunuhnya Khalifah Utsman. Pengkhianatan oleh Marwan kelak akan menimbulkan pemberontakan dari sebagian kaum muslimin kepada Khalifah Utsman bin Affan r.a

Dari sinilah awal fitnah yang menimpa dunia Islam. Berawal dari penghianatan orang terdekat yang tidak pernah transparan memberi info kepada pimpinan umat. Terkadang hal ini juga sering terjadi di negeri kita. Ada pejabat yang tidak memberi info yang benar kepada Presiden tentang kondisi masyarakat yang sebenarnya. Masih banyak petani yang miskin tapi info yang sampai di istana bahwa petani sudah makmur. Masih banyak nelayan yang susah melaut karena tidak ada bahan bakar tapi info yang sampai ditelinga Presiden bahwa bahan bakar sudah mencukupi stoknya di masyarakat. Hal inilah yang sering memicu timbulnya ketidak stabilan di tengah masyarakat yaitu penghianatan dari ring terdekat sang pemilik kekuasaan..wallahu’alam bis shawab

Iklan