Setiap perbuatan manusia bisa bernilai ibadah jika persyaratannya dipenuhi (muslim, ikhlas, dan sesuai yang Nabi SAW contohkan). Salah satu syarat tersebut adalah ikhlas, lalu apa yang dimaksud dengan ikhlas?

Pembahasan

Secara bahasa, niat berarti ‘sengaja’ atau ‘sesuatu yang dimaksudkan’ atau ‘tujuan dari keinginan’. Sementara ikhlas berasal dari kata khalasha yang maknanya ialah kemurnian, kejernihan, atau hilangnya segala sesuatu yang mengotori. Sehingga secara istilah syara’, ikhlas adalah membersihkan niat dalam beribadah semata-mata hanya karena Allah.

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5)

Tingkatan Niat:

Tingkatan Pertama ialah menjadikan ridho Allah sebagai satu-satunya penggerak amal yang dikerjakan. Itulah tingkatan yang utama bagi seorang mukmin.

“Katakanlah: Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb seluruh alam.” (QS. Al An’aam: 162)

Termasuk pula dalam tingkatan ini ialah mereka yang meniatkan setiap gerak dan diamnya karena mengharap ridho Allah semata, dan juga mereka yang beribadah karena takut akan siksa neraka dan berharap kenikmatan surga-Nya. Karena Allah SWT pun memerintahkan para hamba-Nya untuk takut terhadap azab-Nya di neraka, serta mengejar nikmat-Nya di surga.

“Peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al Baqarah: 24)

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imran: 133)

Tingkatan Kedua ialah mereka yang menjadikan niat mengharap ridho Allah itu bercampur dengan tujuan lainnya yang bersifat duniawi namun masih dalam lingkup fillah (dalam rangka karena Allah SWT) pada penghujungnya. Namun tujuan-tujuan lain tersebut tidak boleh menyamai atau bahkan lebih besar daripada niat karena Allah. Misalnya seseorang yang berpuasa dengan harapan ridho Allah dan harapan untuk kesehatan (dimana dengan sehat maka ibadahnya akan lebih terjaga), atau orang yang berwudhu untuk ridho Allah dan bercampur dengan keinginan menyegarkan badan (badan yang segar akan turut menyegarkan tubuh untuk mengingat Allah). Amal dengan niat bercampur seperti ini tidak dilarang, akan tetapi pahala yang didapat tidak sebesar mereka yang berada di tingkatan niat pertama.

“Sesungguhnya apabila orang-orang yang berperang itu memperoleh harta rampasan, maka mereka mendapatkan terlebih dahulu dua pertiga balasannya (di dunia), dan jika tidak memperoleh apa-apa (harta rampasan), maka balasan bagi mereka menjadi utuh (di akhirat).” (HR. Muslim)

Allah SWT pun tidak melarang perjalanan ibadah haji yang juga ditujukan untuk berniaga.

“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu.” (QS. Al Baqarah: 198)

Sesungguhnya setiap ibadah yang Allah SWT perintahkan, memiliki manfaat dunia dan akhirat. Namun akan lebih baik jika manfaat duniawi tersebut cukup dijadikan sebagai factor tambahan untuk penguat semangat, dan tidak menjadi sebab utama dalam beribadah.

Tingkatan Ketiga ialah niat untuk mencari ridho Allah yang bercampur dengan keinginan lain yang bersifat duniawi dan diluar dari lingkup fillah. Misalnya orang yang sholat dengan harapan ridho Allah dan juga keinginan untuk dipuji orang lain (riya’). Tingkatan ketiga ini adalah terlarang, niat yang bercampur dengan riya akan membatalkan pahala dari amal tersebut.

Allah SWT berfirman dalam hadits qudsi: “Aku adalah yang paling tidak butuh kepada serikat, maka barangsiapa yang beramal suatu amalan untukKu lantas ia menserikatkan amalannya tersebut (juga) kepada selainKu, maka Aku berlepas diri darinya, dan ia untuk yang dia serikatkan.” (HR. Ibnu Majah)

Ada seorang datang menghadap Rasulullah SAW dan berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat anda tentang seseorang yang berperang dijalan Allah untuk mencari pahala dan juga agar (namanya) dikenang manusia lainnya, apa yang akan ia peroleh?” Nabi SAW menjawab: “Ia tidak mendapatkan apa-apa.” Lalu orang tersebut mengulangi pertanyaannya sampai tiga kali, dan semua jawaban dari Nabi juga sama: “Ia tidak mendapatkan apa-apa.” Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menerima amalan kecuali dengan niat ikhlas dan hanya mengharapkan balasan dari-Nya semata.” (HR. An Nasa’i)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah).” (QS. Al Baqarah: 264)

Tingkatan Keempat adalah niat yang tidak ada di dalamnya harapan mencari ridho Allah atau memperoleh pahala, akan tetapi semata-mata mengejar kemanfaatan dunia. Niat seperti ini tidak memperoleh bagian pahala dari Allah, akan tetapi bila amalannya itu sesuai dengan sebab-akibat sunatullah yang Allah telah tetapkan, maka ia berkesempatan memperoleh manfaat dunianya saja.

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia (saja) dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia ini tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat apa yang telah mereka kerjakan di dunia dan sia-sia apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15 – 16)

Rasulullah Shollallahu’alaihi wassalam bersabda: “Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya: ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab: ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman: ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al-Quran. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca al-Quran hanyalah karena engkau.’ Allah berkata: ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al-Quran supaya dikatakan seorang qari’ (pembaca al-Quran yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya: ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab: ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’ Allah berfirman: ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’” (HR. Muslim)

Ada beberapa hal yang bisa merusak keikhlasan, antara lain:

1. Riya’ dan Sum’ah. Riya’ ialah melakukan ibadah dengan tujuan dilihat manusia, sedangkan Sum’ah ialah beramal dengan tujuan untuk didengar oleh orang lain (mencari popularitas). Kedua hal tersebut dapat terjadi pada mereka yang berambisi untuk menjadi seorang yang terkenal atau dikagumi banyak orang.

Ketenaran adalah akibat, dan bukan sebab. Menjadi orang yang tenar/terkenal tidaklah dilarang. Nabi Muhammad SAW merupakan orang yang terkenal, dan hal itu merupakan akibat dari akhlak dan amal dakwahnya. Jangan sampai terjebak pada pemikiran bahwa untuk berdakwah harus terkenal, atau berdakwah supaya terkenal. Karena ketenaran hanyalah efek samping yang muncul dengan sendirinya, dan tidak perlu dikejar. Ambisi untuk terkenal dapat menjerumuskan seseorang pada menghalalkan berbagai cara agar terkenal, termasuk meniatkan ibadah agar dikenal sebagai orang yang shalih.

2. ‘Ujub. ‘Ujub ialah merasa kagum terhadap diri sendiri. Manusia memang harus bangga terhadap dirinya, hal ini sebagai bagian dari rasa syukur kepada Allah SWT. Namun jika rasa bangga tersebut beralih menjadi ‘Ujub, maka hal ini merupakan awal dari menyekutukan Allah dengan diri sendiri. ‘Ujub menjadikan pelakunya meyakini bahwa setiap keberhasilan yang didapatnya semata-mata karena kemampuan dan kehebatannya sendiri (peran Allah dianggap tidak ada). Jika hal ini berlangsung terus menerus, maka pelaku dapat sampai pada tahap beramal tidak lagi diniatkan untuk Allah, melainkan untuk (kepentingan duniawi) dirinya sendiri.

3. Menjadikan ikhlas sebagai wasilah (sarana), bukan maksud dan tujuan.

Pernah Abu Hamid Al Ghazali menerima petuah bahwa barangsiapa yang berbuat ikhlas semata-mata karena Allah selama empat puluh hari maka akan memancar hikmah dalam hati orang tersebut melalui lisannya (ucapan). Abu Hamid berkata: “Maka aku berbuat ikhlas selama empat puluh hari, namun tidak memancar apa-apa dariku, lalu kusampaikan hal ini kepada sebagian ahli ilmu, hingga ada di antara mereka yang berkata: ‘Sesungguhnya kamu ikhlas hanya untuk mendapatkan hikmah, dan ikhlasmu itu bukan karena Allah semata.’”

Kemudian Ibnu Taymiyah berkata: “Hal ini dikarenakan manusia terkadang ingin disebut ahli ilmu dan hikmah, dihormati dan dipuji manusia, sementara ia tahu bahwa untuk medapatkan semua itu harus dengan cara ikhlas karena Allah. Jika ia menginginkan tujuan pribadi tapi dengan cara berbuat ikhlas karena Allah, maka terjadilah dua hal yang saling bertentangan. Dengan kata lain, Allah di sini hanya dijadikan sebagai sarana saja, sedang tujuannya adalah selain Allah.”

Ibnu Rajab pun berkata: “Ada satu hal yang sangat tersembunyi, yaitu terkadang seseorang mencela dan menjelek-jelekan dirinya dihadapan orang lain dengan tujuan agar orang lain tersebut menganggapnya sebagai orang yang tawadhu’ dan merendah, sehingga dengan itu orang justru mengangkat dan memujinya. Ini merupakan pintu riya’ yang sangat tersembunyi yang selalu diperingatkan oleh para salafus shaleh.”

(Al Ikhlash wa Asy Syirkul Asghar, oleh Dr Abdul Aziz bin Muhammad Al Abdul Lathif)

Dilarang meninggalkan amal karena takut riya’.

Seorang muslim tidak boleh meninggalkan amal hanya karena takut riya’. Setan, pada satu kondisi berusaha menjerumuskan seseorang ke dalam riya untuk merusak amalnya. Dan pada kondisi yang lain memberikan was-was agar seseorang meninggalkan amal shalih karena takut riya’.

Karena itulah jika seorang muslim hendak/sedang beribadah lalu muncul perasaan riya’ dalam hatinya, maka ia harus menguatkan azam dan kembali meluruskan niat agar ikhlas kepada Allah SWT.

Fudhail Bin Iyadh berkata: “Beramal karena manusia adalah syirik, meninggalkan amalan karena manusia adalah riya’, dan ikhlas adalah Allah menyelamatkanmu dari keduanya.” (Riwayat Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan: “Makna perkataan beliau, barangsiapa yang telah bertekad melakukan suatu amalan, kemudian ia meninggalkan amalan tersebut karena khawatir dilihat orang, maka ia telah melakukan riya’, sebab ia meninggalkan amalan karena manusia. Adapun jika ia meninggalkan shalat sunnah di keramaian untuk kemudian mengerjakannya saat tidak dilihat orang, maka yang seperti ini disunnahkan. Kecuali shalat wajib, atau zakat wajib, atau ia seorang ulama yang menjadi panutan, maka lebih afdhal dikerjakan secara terang-terangan.” (Syarhul Arba’in, Imam An-Nawawi)

Amalan-amalan yang tidak termasuk riya’ antara lain:

1. Imam An-Nawawi rahimahullah membuat satu bab dalam kitab Riyadus Shalihin dengan judul, “Perkara yang dianggap manusia sebagai riya’ namun bukan termasuk riya’.” Beliau membawakan hadist dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya: “Apa pendapatmu tentang seseorang yang beramal kebaikan kemudian dia mendapat pujian dari manusia?” Beliau SAW menjawab: “Itu adalah kebaikan yang disegerakan bagi seorang mukmin.” (HR. Muslim)

2. Rajin beribadah ketika bersama orang shalih. Hal ini terkadang menimpa ketika seseorang berkumpul dengan orang-orang shalih sehingga lebih semangat dalam beribadah, dan hal ini tidak termasuk riya’. Semangat seseorang terkadang memang dipicu dari menyaksikan perbuatan orang lain. Orang yang malas sholat di masjid, kemudian jadi ikut sholat berjamaah di masjid setelah melihat teman-temannya yang lain ke masjid. Hal ini dibolehkan, selama sholatnya tetap ditujukan untuk Allah SWT.

3. Menyembunyikan dosa. Kewajiban bagi setiap muslim apabila berbuat dosa adalah tidak menampakkan dosa tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Setiap umatku akan diampuni kecuali orang yang menampakkan perbuatan dosanya. Di antara bentuk menampakkan dosa adalah seseorang di malam hari melakukan maksiat, namun di pagi harinya ia sendiri yang bercerita, ‘Wahai fulan, aku semalam telah melakukan maksiat ini dan itu.’ Padahal semalam Allah telah tutupi maksiat yang ia lakukan, namun di pagi harinya ia sendiri yang membuka aibnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Memakai pakaian yang bagus. Hal ini tidak termasuk riya’ karena termasuk keindahan yang disukai oleh Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak akan masuk surga seseorang yang dalam hatinya terdapat sifat sombong walau sebesar dzarrah (semut kecil).” Lantas ada seseorang yang berkata: “Sesungguhnya ada orang yang suka berpenampilan indah (bagus) ketika berpakaian atau ketika menggunakan alas kaki.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan. Yang dimaksud sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim)

5. Menampakkan syiar Islam. Sebagian syariat Islam tidak mungkin dilakukan secara sembunyi-sembunyi; seperti haji, umroh, shalat jama’ah dan shalat jum’at. Seorang hamba tidak berarti riya’ ketika menampakkan ibadah tersebut, karena hal itu termasuk kewajiban yang harus ditampakkan dan diketahui manusia yang lain.

Hukum menyembunyikan amal.

“Jika kalian menampakkan sedekah kalian maka itu adalah baik sekali. Dan jika kalian menyembunyikannya dan kalian berikan kepada orang-orang fakir maka menyembunyikannya itu lebih baik bagi kalian. Dan Allah akan menghapuskan dari kalian sebagian kesalahan-kesalahan kalian, dan Allah maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Baqoroh: 271)

Rasulullah SAW bersabda: “Tujuh golongan yang berada di bawah naungan Allah pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan Allah, yaitu … (salah satunya ialah) seorang yang bersedekah lalu dia menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Anas bin Malik ra. dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Ketika Allah menciptakan bumi, bumi itu bergoyang, maka Dia menciptakan gunung-gunung, lalu bumi itu menjadi tetap (tidak bergoyang). Malaikat heran terhadap kehebatan gunung, mereka bertanya: ‘Wahai Tuhanku, adakah makhlukMu yang lebih hebat dari pada gunung?’ Dia berfirman: ‘Ya, besi.’ Mereka bertanya: ‘Wahai TuhanKu, adakah makhlukMu yang lebih hebat dari pada besi?’ Dia berfirman: ‘Ya, api.’ Mereka bertanya: ‘Wahai TuhanKu, adakah makhlukMu yang lebih hebat dari pada api?’ Dia berfirman: ‘Ya, air.’ Mereka bertanya: ‘Wahai TuhanKu, adakah makhlukMu yang lebih hebat dari pada air?’ Dia berfirman: ‘Ya, angin.’ Mereka bertanya: ‘Wahai TuhanKu, adakah dari makhlukMu yang lebih hebat dari pada angin?’ Dia berfirman: ‘Ya, anak Adam yang tangan kanannya mensedekahkan sesuatu dengan tersembunyi dari tangan kirinya’.” (HR. Tirmidzi)

Para ulama menjelaskan bahwa keutamaan menyembunyikan amal kebajikan (karena hal ini lebih menjauhkan dari riya’) itu hanya khusus bagi amalan-amalan mustahab, dan bukan amalan-amalan yang wajib. Berkata Ibnu Hajar: “At-Thobari dan yang lainnya telah menukil ijma’ bahwa sedekah yang wajib secara terang-terangan lebih afdhol daripada secara tersembunyi. Adapun sedekah yang mustahab maka sebaliknya.” (Fathul Bari)

Para ulama juga mengecualikan orang-orang yang merupakan teladan bagi masyarakat, maka justru lebih afdhol bagi mereka untuk beramal terang-terangan agar bisa diikuti dengan syarat mereka aman dari riya’.

Imam Al-Izz bin Abdus Salam menjelaskan hukum menyembunyikan amal kebajikan secara terperinci, sebagai berikut:

Yang pertama, adalah amalan yang disyariatkan untuk dilaksanakan dengan dinampakkan seperti adzan, iqomat, bertakbir, membaca Quran dalam sholat secara jahr, khutbah-khutbah, amar ma’ruf nahi mungkar, mendirikan sholat jumat dan sholat wajib secara berjamaah, merayakan hari-hari ‘ied, jihad, mengunjungi orang-orang yang sakit, mengantar jenazah, dan amal-amal lain sejenisnya, maka hal-hal tersebut tidak mungkin disembunyikan. Jika pelaku amalan-amalan tersebut takut riya, maka hendaknya dia berusaha bersungguh-sungguh untuk mengusir riya’ tersebut. Sehingga dengan demikian dia akan mendapatkan pahala amalannya dan juga pahala karena kesungguhannya menolak riya, karena amalan-amalan ini maslahatnya juga untuk orang lain.

Yang kedua, amalan yang jika diamalkan secara tersembunyi lebih afdhol dari pada jika dinampakkan. Contohnya antara lain seperti sholat sunnah Qiyamul Lail dan puasa sunnah.

Dalam rangka menyembunyikan amalan puasa sunnah, sebagian ulama salaf senang berhias agar tidak nampak lemas atau lesu karena puasa. Mereka menganjurkan untuk memakai minyak di rambut atau kulit di kala itu.

Daud bin Abi Hindi telah menyembunyikan puasa sunnah selama 40 tahun. Ia adalah seorang penjual kain di pasar. Di pagi hari, ia keluar ke pasar sambil membawa sarapan pagi. Dan di tengah jalan menuju pasar, ia pun menyedekahkannya. Kemudian ia pun kembali ke rumahnya pada sore hari, sekaligus berbuka dan makan malam bersama keluarganya. Jadi orang-orang di pasar mengira bahwa ia telah sarapan di rumahnya. Sedangkan orang-orang yang berada di rumah mengira bahwa ia menunaikan sarapan di pasar. (Lihat Shifatus Shofwah, Ibnul Jauziy)

Tatkala Abu As Sa’ib ingin menangis ketika mendengar bacaan Al Qur’an atau hadits, ia pun pura-pura menyembunyikan tangisannya (di hadapan orang lain) dengan sambil tersenyum. (Ta’thirul Anfas min Haditsil Ikhlas, Sayyid bin Husain Al ‘Afaniy)

Yang ketiga, amalan yang terkadang disembunyikan dan terkadang dinampakkan. Contohnya antara lain sedekah. Jika dia khawatir tertimpa riya’ atau dia tahu bahwasanya biasanya kalau dia nampakkan amalannya dia akan riya’, maka amalan (sedekah) tersebut disembunyikan lebih baik daripada jika dinampakkan.

Buah sikap ikhlas.

1. Benteng dari godaan setan.

“Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka (manusia) memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang ikhlas di antara mereka”.” (QS. Al Hijr: 39 – 40)

Iblis telah bersumpah akan menyesatkan seluruh keturunan Nabi Adam AS, namun Iblis pun mengakui bahwa orang-orang yang ikhlas akan selamat dari godaannya tersebut.

2. Mengubah amal yang mubah menjadi bernilai ibadah.

“Dan tidaklah engkau memberi nafkah dengan mengharapkan wajah Allah kecuali engkau mendapatkan pahala, bahkan sampai sesuap makanan yang engkau letakkan di mulut istrimu.” (HR. Muslim)

“Barangsiapa mempersiapkan dan memelihara seekor kuda untuk digunakan di jalan Allah semata-mata karena iman kepada Allah dan percaya dengan janji-Nya, maka kenyangnya kuda itu, hilangnya dahaga, hingga kotoran dan kencingnya akan tercatat dalam timbangan kebaikan pada hari kiamat.” (HR. Bukhari)

3. Memperoleh pahala meskipun amal kebaikan belum dilakukan atau diselesaikan.

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisaa’: 100)

Saat perjalanan pulang dari suatu peperangan, Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya ada orang-orang yang kita tinggalkan di Madinah, dimana tidaklah kita melewati jalan-jalan di gunung dan di lembah, kecuali mereka bersama-sama dengan kita, mereka terhalang (tidak ikut perang) karena udzur.” (HR Bukhari)

Dan dalam riwayat dari Imam Muslim disebutkan: “Melainkan mereka bersekutu dengan kalian dalam pahala.”

Orang-orang yang dimaksud dalam hadits tersebut ialah mereka yang telah Allah SWT sampaikan dalam Al Quran:

“… dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu.” Lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.” (QS. At Taubah: 92)

Dari Ummu Haritsah binti Suraqah, ia datang kepada Nabi SAW dan berkata: “Wahai Nabi Allah, tidakkah engkau bercerita kepadaku tentang Haritsah (anaknya yang meninggal karena terkena anak panah nyasar sebelum perang Badar)? Jika ia di surga, saya bersabar. Namun jika tidak demikian, saya akan meratapinya dengan tangisan ku.” Nabi SAW menjawab: “Wahai Ummu Haritsah, ada banyak taman di surga. Anakmu memperoleh taman Firdaus yang tertinggi.” (HR. Bukhari)

Rasulullah SAW bersabda: “Seorang laki-laki berkata, ‘Sungguh aku akan bersedekah.’ Lalu dia pergi membawa sedekahnya (saat malam hari agar amalnya tidak diketahui orang banyak). Dia meletakkan sedekahnya di tangan pencuri (tanpa dia ketahui). Di pagi hari orang-orang membicarakannya, ‘Seorang pencuri diberi sedekah.’ Dia berkata, ‘Ya Allah, bagi-Mu segala puji. Sungguh aku akan bersedekah.’ Lalu dia pergi membawa sedekahnya (tetap pada malam hari) dan meletakkannya di tangan wanita pezina. Di pagi hari orang-orang membicarakan, ‘Malam ini seorang pezina diberi sedekah.’ Dia berkata, ‘Ya Allah, bagi-Mu segala puji. Sedekahku jatuh di tangan wanita pezina. Sungguh aku akan bersedekah.’ Lalu dia pergi membawa sedekahnya (juga di malam hari) dan dia meletakkannya di tangan orang kaya. Di pagi hari orang-orang membicarakannya, ‘Seorang kaya di beri sedekah.’ Dia berkata, ‘Ya Allah, bagi-Mu segala puji. Kepada pencuri, wanita pezina, dan orang kaya.’ Lalu dia didatangi dalam mimpi, dan dikatakan kepadanya, ‘Adapun sedekahmu kepada pencuri, semoga itu membuatnya insyaf dari mencuri. Adapun wanita pezina, semoga itu membuatnya sadar dari zinanya. Adapun orang kaya, maka semoga dia mengambil pelajaran dan dia berinfak dari apa yang Allah berikan kepadanya’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Pertolongan Allah di saat sulit.

Rasulullah SAW bersabda: “Ada tiga orang dari golongan orang-orang sebelummu sama berangkat berpergian, sehingga terpaksalah untuk menempati sebuah gua guna bermalam, kemudian merekapun memasukinya. Tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung lalu menutup gua itu atas mereka. Mereka berkata bahawasanya tidak ada yang dapat menyelamatkan engkau semua dari batu besar ini melainkan jikalau engkau semua berdoa kepada Allah Ta’ala dengan menyebutkan perbuatanmu yang baik-baik.

Seorang dari mereka itu berkata: “Ya Allah. Saya mempunyai dua orang tua yang sudah tua-tua serta lanjut usianya dan saya tidak pernah memberi minum kepada siapapun sebelum keduanya itu, baik kepada keluarga ataupun hamba sahaya. Kemudian pada suatu hari amat jauhlah saya mencari kayu (daun-daunan untuk makanan ternak). Saya belum lagi pulang pada kedua orang tua itu sampai mereka tertidur. Selanjutnya saya pun terus memerah minuman untuk keduanya itu dan keduanya saya temui telah tidur. Saya enggan untuk membangunkan mereka ataupun memberikan minuman kepada seseorang sebelum keduanya, baik pada keluarga atau hamba sahaya. Seterusnya saya tetap dalam keadaan menantikan bangun mereka itu terus-menerus dan gelas itu tetap pula di tangan saya, sehingga fajarpun menyingsinglah. Anak-anak kecil saya menangis karena kelaparan dan mereka ini ada di dekat kedua kaki saya. Selanjutnya setelah keduanya bangun lalu mereka minum minumannya. Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang sedemikian itu dengan niat benar-benar mengharapkan keredhaanMu, maka lapangkanlah kesukaran yang sedang kita hadapi dari batu besar yang menutup ini.” Batu besar itu tiba-tiba membuka sedikit, tetapi mereka belum lagi dapat keluar dari gua.

Yang lain berkata: “Ya Allah, sesungguhnya saya mempunyai seorang anak saudara ayah yang wanita (sepupu wanita) yang merupakan orang yang tercinta bagiku dari sekalian manusia (riwayat lain menyebutkan: ‘Saya mencintainya sebagai kecintaan orang-orang lelaki yang amat sangat kepada wanita’). Kemudian saya menginginkan dirinya, tetapi ia menolak kehendakku itu, sehingga pada suatu tahun ia memperolehi kesukaran. lapun mendatangi tempatku, lalu saya memberikan seratus dua puluh dinar padanya dengan syarat ia suka menyendiri antara tubuhnya dan antara tubuhku (maksudnya melakukan hubungan suami istri). Ia berjanji sedemikian itu. Setelah saya dapat menguasai dirinya (dalam riwayat lain disebutkan: ‘Setelah saya dapat duduk di antara kedua kakinya’) sepupuku itu lalu berkata: “Takutlah engkau pada Allah dan jangan membuka cincin (maksudnya ialah jangan melenyapkan kegadisanku ini) melainkan dengan haknya (yakni dengan perkahwinan yang sah).” Lalu saya pun meninggalkannya, sedangkan ia adalah yang amat tercinta bagiku dari seluruh manusia, dan emas yang saya berikan itu saya biarkan dimilikinya. Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang sedemikian dengan niat untuk mengharapkan keredhaanMu, maka lapangkanlah kesukaran yang sedang kita hadapi ini.” Batu besar itu kemudian membuka lagi, hanya saja mereka masih juga belum dapat keluar dari dalamnya.

Orang yang ketiga lalu berkata: “Ya Allah, saya mengupah beberapa kaum buruh dan semuanya telah kuberikan upahnya masing-masing, kecuali seorang lelaki. Ia meninggalkan upahnya dan terus pergi. Upahnya itu saya perkembangkan sehingga bertambah banyaklah hartanya tadi. Sesudah beberapa waktu, pada suatu hari ia mendatangi saya, kemudian berkata: ‘Hai hamba Allah, tunaikanlah sekarang upahku yang dulu itu.’ Saya berkata: ‘Semua yang engkau lihat ini adalah berasal dari hasil upahmu itu, baik yang berupa unta, lembu dan kambing dan juga hamba sahaya.’ Ia berkata: ‘Hai hamba Allah, janganlah engkau memperolok-olokkan aku.’ Saya menjawab: ‘Saya tidak memperolok-olokkan engkau.’ Kemudian orang itu pun mengambil segala yang dimilikinya. Semua digiring dan tidak seekorpun yang ditinggalkan. Ya Allah, jikalau saya mengerjakan yang sedemikian ini dengan niat mengharapkan keredhaanMu, maka lapangkanlah kita dari kesukaran yang sedang kita hadapi ini.” Batu besar itu lalu membuka lagi dan mereka pun keluar dari gua itu. (HR. Bukhari dan Muslim)

5. Hati yang tenang dan tenteram.

“Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Az Zumar: 29)

Orang yang ikhlas hanya mengejar ridha Allah semata, sehingga tujuannya focus dan tidak dibingungkan oleh berbagai fitnah dunia. Hati yang tenteram karena keikhlasan akan memunculkan manusia yang memiliki kekuatan jiwa, dengan ciri-ciri antara lain:

a.) Sabar terhadap panjangnya jalan perjuangan, tidak terburu-buru dan tergoda untuk menempuh jalan pintas yang tidak berkah.

b.) Istiqamah dalam memperbaiki diri dan terus beramal, baik dalam kondisi sendiri atau ramai, dilihat orang atau tidak, mendapat pujian atau celaan.

c.) Setiap kegagalan disikapi dengan lapang dada, karena ia yakin bahwa selama ikhtiar sudah jalankan, maka Allah akan tetap memberi ganjaran di akhirat.

d.) Merasa senang jika kebaikan terlaksana di tangan saudaranya, sebagaimana dia juga merasa senang jika terlaksana oleh tangannya.

e.) Berusaha membangun amal jama’i, tidak bertujuan mengejar popularitas pribadi atau membesarkan kelompok tertentu semata, karena setiap apa yang dilakukan untuk meraih ridha Allah SWT maka tolok ukurnya adalah kemuliaan Islam dan umat Islam.

f.) Menyadari kelemahan dan kekurangannya sehingga selalu mengevaluasi dan mewaspadai munculnya riya’ dalam dirinya.

g.) Menjadikan keridhoan dan kemarahan karena Allah SWT, bukan karena pertimbangan pribadi.

h.) Tidak menyesuaikan perbuatan semata-mata agar dikagumi atau tidak bertentangan dengan orang yang disukai/dihormati.

i.) Tidak mengungkit-ungkit jasa yang pernah dilakukan atau mendendam karena perannya dilupakan.

j.) Mengambil keputusan tidak semata-mata karena pencitraan atau mencari popularitas atau menyesuaikan dengan kehendak orang banyak, melainkan dengan berdasar pada hukum Allah SWT.

Berikut ini beberapa contoh kisah kekuatan jiwa yang lahir dari keikhlasan:

1. Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, ia berkata: “Pamanku Anas bin an-Nadhar tidak ikut serta di dalam perang Badar. Kemudian ia berkata, ‘Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Aku tidak sempat bergabung dalam peperangan pertama melawan orang-orang musyrik. Sekiranya Allah memberi kesempatan kepadaku untuk melawan orang-orang musyrik, tentu Allah Maha Melihat apa yang aku perbuat dalam perang itu.’

Ketika peperangan Uhud berlangsung dan umat Islam nampak cerai berai dalam peperangan itu, ia berkata, ‘Ya Allah, Aku mohon ampunan kepadamu atas apa yang dilakukan kawan-kawanku.’ Yaitu mereka yang melarikan diri dari peperangan, ‘Aku pun berlepas diri dari perbuatan yang dilakukan orang-orang musyrik.’

Ia lalu bangkit dan berpapasan dengan Sa’ad bin Mu’adz sambil berkata, ‘Wahai Mu’adz, lihatlah, di depanmu ada Surga dan alangkah indahnya! Sungguh aku telah mencium bau wanginya dari bawah gunung Uhud.’

Selanjutnya Sa’ad mengomentari apa yang telah dilakukan oleh Anas bin an-Nadhar, ‘Wahai Rasulullah, Aku tidak bisa mencapainya apa yang telah ia lakukan’.”

Anas bin Malik berkata: “Kami dapati dalam tubuhnya lebih dari 80 tusukan pedang dan tombak serta kami dapati ia telah mati. Orang musyriklah yang menghancurkannya sehingga tidak ada seorang pun yang mengenali jenazah beliau selain adik perempuannya, ia mengetahui ciri-cirinya melalui jari-jari tangannya.”

Anas bin Malik berkata: “Kami berpendapat bahwa ayat, ‘Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya),’ (QS. Al Ahzab: 23) diturunkan berkenaan dengan Anas bin an-Nadhar dan orang yang sepertinya.” (HR. Bukhari)

2. Dari Ibnu Mas’ud ra, ia berkata, bersabda Rasulullah SAW: “Tuhan kita takjub kepada seseorang yang berperang di jalan Allah lalu pasukannya kalah. Ia pun memahami apa yang telah menimpanya, maka kembalilah ia ke medan perang sehingga darahnya menetes. Allah SWT berfirman kepada malaikat, ‘Lihatlah hamba-Ku. Ia kembali ke medan perang karena menginginkan apa yang ada pada-Ku (pahala) dan takut atas apa yang ada pada-Ku (murka), sampai meneteslah darahnya. Aku bersumpah di hadapan kalian bahwa Aku telah mengampuninya’.” (HR. Abu Dawud)

3. Dari Syadad bin Al-Hadi ra, bahwasanya ada seorang Arab gunung (suku Badui) datang kepada Rasulullah SAW lalu beriman dan mengikutinya. Laki-laki itu mengatakan, “Aku akan berhijrah bersamamu.” Maka Rasulullah SAW menitipkan orang itu kepada para sahabatnya. Saat terjadi Perang Khaibar, Rasulullah SAW memperoleh ghanimah (rampasan perang). Lalu beliau membagi-bagikannya dan memberikan bagian untuk orang Badui tersebut. Orang itu mengatakan, “Apa ini?” Para sahabat menjawab, “Ini adalah bagianmu yang dijatahkan oleh Rasulullah SAW.” Orang itu mengatakan lagi, “Aku mengikutimu bukan karena ingin mendapatkan bagian seperti ini. Aku mengikutimu semata-mata karena aku ingin tertusuk dengan anak panah di sini (sambil menunjuk tenggorokannya), lalu aku mati kemudian masuk surga.” Rasulullah SAW mengatakan, “Jika kamu jujur kepada Allah, maka Dia akan meluluskan keinginanmu.” Lalu mereka berangkat untuk memerangi musuh. Seusai peperangan, para sahabat datang dengan membopong orang itu dalam keadaan tertusuk panah di bagian tubuh yang ditunjuknya. Rasulullah SAW mengatakan, “Inikah orang itu?” Mereka menjawab, “Ya.” Rasulullah SAW berkata, “Ia telah jujur kepada Allah, maka Allah meluluskan keinginannya.” Lalu Rasulullah SAW mengafaninya dengan jubah beliau, kemudian menshalatinya. Dan di antara doa yang terdengar dalam shalatnya itu adalah: “Allaahumma haadza ‘abduka kharaja muhaajiran fii sabiilika faqutila syahiidan wa ana syahidun ‘alaihi (Ya Allah, ini adalah hamba-Mu. Dia keluar dalam rangka berhijrah di jalan-Mu, lalu ia terbunuh sebagai syahid dan aku menjadi saksi atasnya).” (HR. An-Nasai)

Kesimpulan

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah mengatakan: “Tidaklah aku berusaha untuk membenahi sesuatu yang lebih berat selain daripada meluruskan niatku, karena niat itu senantiasa berbolak balik.” (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rajab al Hambali)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai sekalian manusia, jauhilah dosa syirik, karena syirik itu lebih samar daripada rayapan seekor semut.” Lalu ada orang yang bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana kami dapat menjauhi dosa syirik, sementara ia lebih samar daripada rayapan seekor semut?” Rasulullah berkata: “Ucapkanlah Allaahumma Innaa Na’udzu bika Min an Nusyrika bika Syai’an Na’lamuhuu wa Nastaghfiruka Limaa Laa Na‘lamu (Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui, dan kami memohon ampunan kepada-Mu dari apa yang kami tidak ketahui).” (HR. Ahmad)

Keikhlasan harus dijaga bukan saja di awal amal, melainkan juga selama amal tengah dijalankan, dan juga setelah amal usai dilaksanakan.

Diskusi:

Apakah niat yang ikhlas bisa mengubah perbuatan haram (misalnya mencuri) menjadi halal?
Sebutkan cara-cara yang dapat dilakukan untuk merawat keikhlasan!

Bahan bacaan lainnya:

Niat dan Ikhlas – oleh Yusuf al Qaradhawi

Riyadhus Shalihin – oleh Imam An-Nawawi

>>>http://studislam.blogdetik.com

About these ads